Sang Keledai

Di sebuah desa, seorang petani kehilangan keledainya. Capek mencari, tak dia temukan juga keledai itu. Tapi, ketika dia lelah mencari dan duduk di bagian belakang rumah, samar telinganya mendengar ringkik memelas dari keledainya. Suara itu lirih, sedih. Tapi di mana? Dan kenapa suara itu bergema?

Beringsut petani tersebut mencari sumber suara dan tak jauh dari rumah tersebut, di dalam sumur kering tak terpakai, dia temukan keledainya, bergerak gelisah, memekik setengah putus asa, berharap untuk segera ditolong. Petani tua itu tak tahu harus berbuat apa. Mengangkat keledainya dari dalam sumur, dia tak akan kuat. Juga bagaimana menariknya ? Lama berpikir, akhirnya dia pun pasrah. ” Ah ..keledai itu sudah tua, sedikit lagi yang bisa diharapkan darinya…juga mengangkatnya dari sumur akan bisa membahayakan aku sendiri…” batinnya.

Petani itupun memutuskan untuk mengubur keledainya…walaupun masih hidup di dalam sumur. Dengan mengajak beberapa tetangga, segera dicarinya sekop dan mereka mulai melemparkan timbunan tanah, ber-ulang2 ke dalam sumur. Sambil berusaha menutupi telinganya agar tak mendengar rintihan keledai yang seperti kehilangan asa untuk hidup. Sambil meminta para tetangganya melemparkan lebih banyak tanah dan lebih cepat mengubur keledai tsb di dalam sumur..” Kian cepat kita bekerja, makin cepat pula tangisan keledai itu menghilang…” pikirnya.

Dan benarlah.. Tak lama kemudian, suara keledai tsb sudah tak terdengar lagi dari dalam sumur. Mengira sudah cukup menimbun, mereka segera melongok ke dalam sumur dan mendapati pemandangan yang mengagetkan. Takjub. Terpukau..karena ternyata keledai tsb masih segar bugar dan sedang sibuk me-ngibas2kan tubuhnya dari tanah yang dilemparkan dan kemudian menjejak tanah tsb. Memadatkannya sebagai tumpuan pijakan. Setiap satu sekop tanah yang menimpa punggungnya, keledai itu segera mengibaskannya dan memadatkannya sebagai tumpuan. Melihat hal itu, semakin bersemangat sang petani dan tetangganya menyekopkan tanah dan melemparkannya ke bawah. Keledai tsb segera mengibaskan dan memadatkannya. Seiring dengan makin banyaknya volume tanah maka tak sampai setenagh hari, sumur tersebut sudah hampir penuh. Segera saja keledai tersebut memekik, meloncat keluar dan berlari pergi.

Berapa kali dalam hidup anda berperan sebagai sang petani terhadap pegawai anda? Atau justru sebaliknya, yang sangat berharap pada si petani untuk diselamatkan?

Kehidupan akan terus menuangkan tanah kotor pada tubuh, hati dan pikiran kita. Kadangkala saat kita tidak sedang benar-benar siap untuk itu. Hanya ada satu cara untuk keluar dari kotoran itu — kesedihan, kekecewaan, masalah, cobaan, penyakit dan sebagainya — yakni dengan tetap mengibaskan tubuh, hati dan pikiran kita agar kotoran itu tidak sempat menempel dan mengotorinya. Dan dengan cara itulah, semua masalah akan bisa menjadi tumpuan pijakan agar segera bisa keluar dari sumur kesengsaraan.

Sumber : Resonansi, Suara Merdeka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s