Sepuluh

Dalam hitungan kita, yaitu perhitungan manusia, satu dikurang satu sama dengan nol alias habis. Dan, matematika ini terbawa ketika kita berbagi atau saat kita bersedekah. Bahwa kalau kita punya satu, kemudian yang satu itu kita sedekahkan pada orang lain, maka kita tidak akan memiliki apa-apa lagi.

Alkisah ada seorang imam. Imam ini diberitahu oleh pembantunya bahwa mereka hanya memiliki sepotong roti. Dan, satu roti tersebut tentu tidak cukup untuk dibagi berdua. “Jadi, roti ini enaknya diapakan, Tuan?” tanya si pembantu. Pembantu itu berharap bahwa imam, tuannya, menyuruh dia memakan saja roti tersebut.

Ternyata tidak. Imam itu malah menyuruh si pembantu untuk memberikan roti tersebut kepada tetangga mereka di luar sana, yang juga membutuhkan. Wajah si pembantu itu tampak kecewa.

Sebenarnya, imam itu juga sudah “membaca” bahwa pembantu dia mau bilang, “Saya juga lapar….” Makanya, imam itu bilang kepada si pembantu, “Kita memang lapar, tapi pasti ada yang lebih lapar daripada kita. Lagi pula, ketika kita memberi apa yang kita punya, Allah akan mendatangkan 10 kali lipat lebih banyak.”

Imam pun melanjutkan, “Sudah tenang saja. Allah punya janji yang lain. Kalau kita berkenan membantu orang lain, Allah pun akan membantu kita. Roti ini, kalau kita bagi berdua, maka kita hanya kebagian sebelah-sebelah. Enggak kenyang. Kalau dimakan oleh salah seorang dari kita, maka salah satu dari kita pasti ada yang tidak makan. Sebab, rotinya memang cuma satu.”

Si pembantu pun keluar dari rumah sambil membawa sepotong roti. Dia mencari tetangga yang kelaparan.

Di saat imam sendirian di rumah, datanglah bertamu enam orang. Imam tahu bahwa dia tidak memiliki apa pun untuk disuguhkan kepada enam tamunya tersebut. Tapi, ia tahu bahwa dirinya sudah bersedekah. Dan, Allah akan mencukupkan rezeki bagi siapa saja yang mau bersedekah.

Keyakinan imam inilah yang disebut dengan iman. Imam percaya dan yakin bahwa kebaikannya akan dibalas oleh Allah. Dan bahwa Allah akan mencukupkan rezeki bagi siapa saja yang mau bersedekah.

Tidak berapa lama kemudian, setelah si pembantu kembali ke rumah, datang pula tamu yang kedua. Tamu yang kedua ini tidak masuk ke dalam rumah. Ia hanya berdiri di depan pintu. “Imam, saya bawa hadiah roti buat imam dan buat pembantu imam,” kata dia.

Imam melihat hadiah roti itu. Ia tersenyum. Tamu itu membawa hadiah roti buat dia dan pembantunya. Cuma dua potong roti. Mungkin, tamu tersebut cuma tahu bahwa penghuni rumah itu memang hanya dua orang, imam dan pembantunya. “Maaf,” kata imam, “Saya tidak bisa menerima roti ini. Roti ini salah alamat.”

“Tidak Imam, tidak salah alamat. Memang roti ini untuk Anda, dan untuk pembantu Anda,” ujar si pembawa roti.

“Maaf, saya tidak bisa menerima. Sudah ya, saya ada tamu…,” kata imam itu.

Si pembawa hadiah roti ini, tentu saja bingung. Kenapa imam menolak? Rupanya, enam tamu imam pun protes. “Imam, tidak baik, lho, menolak pemberian dari orang…”

Imam menjawab, “Andai roti itu tidak salah alamat, pasti sudah saya terima.”

“Salah alamat bagaimana?”

Imam lalu bercerita bahwa dia tadi memberi orang satu potong roti, sebelum kedatangan enam orang tamu. Dan, Allah sudah berjanji, lewat surah ke-6 ayat 160 bahwa siapa yang memberi satu kebaikan, maka Allah akan mendatangkan sepuluh kali lipat kebaikan sebagai balasannya.

“Jadi, mestinya, roti yang dibawa oleh tamu kedua tadi, bukan dua, melainkan sepuluh…” tutur imam sambil tersenyum.

Rupanya, si pembawa dua potong roti tadi, sempat melihat ke dalam rumah imam. Benar memang, di dalam ruangan sedang banyak tamu. “Oh, mungkin imam menolak sebab tamunya memang banyak. Kalau roti ini dia terima, tidak cukup untuk dibagikan dengan tamunya.”

Lalu dia kembali pulang, dan menambahkan jumlah hadiah roti itu hingga genap sepuluh potong. Di depan rumah imam, orang ini mengatakan, “Imam, maaf. Kali ini, pasti tidak salah alamat…”

Imam kembali memperhatikan isi baki tersebut, dan melihat ada sepuluh potong roti. “Ya, sekarang tidak salah alamat,” ujarnya.

Imam pun menyuguhkan roti itu buat keenam tamunya. Ia juga memanggil pembantunya untuk ikut bersama-sama menikmati roti tersebut. Tidak lupa ia juga makan satu potong. “Lihatlah,” kata imam kepada pembantu dia, “Sekarang engkau saksikan, kita malah punya sisa dua roti. Enam tamu kita kenyang, kamu kenyang, dan saya pun kenyang.”

Inilah matematika Allah, matematika yang istimewa. Bahwa kalau kita punya satu, lalu satu yang kita miliki itu kita sedekahkan kepada yang lain, maka ia justru akan bertambah menjadi 10. Itu merupakan pengganti dari Allah bagi yang mau berbagi.

Sumber: Ustdz Yusuf Mansur

2 thoughts on “Sepuluh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s