Kesulitan Hidup

”Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).” (QS Al-Insyiqaaq [84]: 19).

Kalau kita mencoba merenungkan dan mendalami realitas kehidupan manusia di dunia, dengan lebih menekankan pada usaha memahami dari aspek metafisisnya, maka secara fundamental kehidupan manusia tiada yang sulit. Karena, manusia sesungguhnya tinggal menjalani kodrat.

Untuk itu manusia dibekali Allah kemampuan fisik, kecerdasan, dan hati nurani untuk mengaktualisasikan diri mengatasi kesulitan yang dihadapi. Secara fisik kesulitan bisa terjadi, karena seluruh kemampuan organik seseorang kenyataannya akan menurun secara alamiah, sementara tantangan yang dihadapinya berkembang makin kompleks. Tetapi, apakah hidup hakikatnya sulit?

Jika kita coba memaknai realitas kesulitan, dan kita melihatnya dari sisi lain, ternyata kesulitan dapat membawa manusia semakin kuat, dan tanpa adanya kesulitan, takkan pernah ada kemajuan. Manusia adalah ”makhluk belajar”, dia belajar dan jadi kuat karena menghadapi tantangan kesulitan. Tanpa kesulitan, daya kekuatan nalar lebih yang dimiliki manusia ketimbang makhluk lain, tidak akan ada artinya dan tiada manfaatnya. Tanpa kesulitan daya nalar manusia akan mati, dan keseluruhan akan menjatuhkan eksistensi manusia sendiri dalam kehidupan dinamis dan penuh perubahan.

Kesulitan hidup dilihat dari sumber kehidupan, merupakan jalan pendakian menuju puncak keilahian. Karena itu, kesulitan hidup jangan dikeluhkan, apalagi dicaci maki, karena akan menghancurkan kemampuan yang dimilikinya, dan sebaiknya kesulitan hidup harus dijalani sebagai langkah menuju Ilahi.

Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Jangan mengeluh, karena keluhan akan membuat kesulitan terasa semakin berat dijalani. Sebagai jalan pendakian kenikmatan dan kebahagiaan dalam menghadapi kesulitan segera datang, ketika kita sudah melewatinya dan berada di puncak, seketika itu ada pencerahan yang terbit dan menguak cakrawala kehidupan spiritualitas yang amat luas, dan membahagiakan.

Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat …” (QS Al-Insyiqaaq [84]: 19). Kesulitan adalah tingkatan untuk menjadi manusia yang berkelas. Dan Dia menjanjikan, ”Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Alam Nasyrah [94]: 6).

Itulah ajaran Islam yang menyemangati kehidupan ini, akhirnya kita mohon kepada Allah karunia yang terbaik dalam rangka memberikan pengabdian yang seoptimal mungkin.

Sumber: dikutip dari Republika Online, 28 Juni 2008 oleh Muhammad Julijanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s