Belajar Dari Nelayan

Dikisahkan ada seorang cendikiawan menumpang perahu disebuah danau.

Ia bertanya pada tukang perahu yang tengah mengemudikan perahunya dan terjadilah percakapan,

“Sobat, pernah anda mempelajari ilmu matematika?”, tanya cendikiawan.
“TIdak”, jawab sang tukang perahu.
“Sayang sekali, berarti anda telah kehilangan seperempat dari kehidupan anda, atau barangkali anda pernah mempelajari ilmu filsafat?”, tukas sang cendikiawan kembali bertanya.
“Itu juga tidak”, jawab tukang perahu dengan sedikit bingung.
“Dua kali sayang, berarti anda telah kehilangan lagi seperempat dari kehidupan anda”, sahut sang cendikiawan dengan rasa bangga.
“Bagaimana dengan sejarah ?”, sang cendikiawan bertanya kembali.
“Juga tidak”, jawab sang tukang perahu dengan mengerutkan dahinya.
“Artinya, seperempat lagi kehidupan anda telah hilang”, balas sang cendikiawan dengan senyum tipisnya.

Tiba-tiba angin bertiup kencang dan terjadi badai. Danau yang tadinya tenang menjadi bergelombang, perahu yang ditumpangi merekapun oleng. Cendikiawan itu terlihat pucat ketakutan.

Dengan tenang tukang perahu itu bertanya, “Apakah anda pernah belajar berenang ?”
“Tidak”
, jawab sang cendikiawan memegang erat tali layar.
“Sayang sekali, berarti anda akan kehilangan seluruh hidup anda.”

Suatu kali seorang pengusaha sedang berlibur ke sebuah kampung nelayan, ia merasa terganggu saat melihat seorang nelayan sedang bersantai dibawah pohon.

“Pak, mengapa bapak tidak melaut ?”, tanya pengusaha itu seraya menghampiri.
“Saya sudah melaut semalam dan saya perlu istirahat”, sambut sang nelayan dengan senyuman.
“Kalau bapak malaut lagi, bapak akan memperoleh lebih banyak ikan”, saran sang pengusaha sambil menunjuk ke arah laut.
“Lalu ?”, balas sang nelayan dengan tenang.
“Bapak bisa mengumpulkan uang lebih banyak untuk membeli sebuah perahu”, sahut sang pengusaha.
“Lalu ?”, balas sang nelayan kembali.
“Dengan perahu itu, bapak tidak perlu lagi menyetorkan sebagian keuntungan bapak kepada pemilik perahu”, tukas sang pengusaha.
“Lalu ?”, balas sang nelayan sembari membetulkan topi jeraminya.
“Bapak bisa mengumpulkan lebih banyak lagi uang untuk membeli perahu kedua”, ucap sang pengusaha dengan bersemangat.
“Lalu ?”, balas sang nelayan dengan senyuman.
“Dengan dua perahu, bapak bisa menghasilkan lebih banyak uang dan membeli perahu ketiga, perahu keempat, kelima dan seterusnya”, dengan bersemangat sang pengusaha menjelaskan.
“Lalu ?”, balas sang nelayan dengan senyum yang bertambah lebar.
“Jika perahu bapak sudah banyak, bapak bisa menyewakannya pada nelayan lain sehingga bapak tidak perlu lagi melaut”, sang pengusaha membalas dengan sedikit tertawa.
“Lalu ?”, sang nelayan kembali menyahut sembari membenahi posisi santainya.
“Bapak bisa hidup tenang dan bersantai”, ujar sang pengusaha dengan keyakina bahwa idenya akan diterima oleh sang nelayan.

Dengan santai, nelayan tersebut tersenyum dan berkata, “Menurut bapak, apa yang sedang saya lakukan sekarang?”

Nasihat pengusaha itu baik. Namun, apa yang dilakukan nelayan itu justru mengajarkan kita satu hal. Hidup itu harus seimbang. Kita perlu, secara sengaja, berhenti sejenak dari kerja keras dan rutinitas kita untuk sekedar menikmati segarnya rerumputan hijau, kicauan burung di pohon dan harumnya bunga mawar yang tengah mekar.

Sumber: “Berani Bepikir Besar” – Xavier Quentin Pranata

5 thoughts on “Belajar Dari Nelayan

  1. Biarkanlah hidup itu mengalir seperti air … yg pd akhirnya akan ke muara, jalanin hidup ini dgn ikhlas, doa & tentunya dengan tawakal. Dan jgn ngoyo…!!! nice topik …

  2. InsyaAllah dengan terus menjalani hidup dengan keyakinan dalam setiap do’a bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita dan bertawakal atasnya sehingga kita akan selalu berprasangka baik kepada Nya, yang pada akhirnya hidup ini akan kita jalani dengan ikhlas.

  3. Seringkali kt melupakan hal2 kecil dan sederhana ketika mencari kebahagian hidup, pd hal seringkali pula justru hal2 kecil dan sederhana itu yg membawa kebahagian dlm kehidupan kt.

  4. Dan kita dapat belajar untuk hal-hal kecil dan sederhana itu melalui mata mereka yang melihatnya sebagai hal besar yang istimewa, karena sering kali kebahagian kita terletak pada orang lain dan tak jarang pula kebahagian itu hadir dengan memberikannya kepada orang lain untuk kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s