Antara ‘have to’, ‘should’ and ‘want to’

Oleh: Lara Fridani

the-great-park-we-should-have-we-could-have-we-didnt

Beberapa tahun belakangan ini saya cukup banyak berdiskusi dengan para ibu terkait dengan hak dan kewajiban kita sebagai wanita muslimah. Tema diskusi yang kami angkat sangat bervariasi, namun memang lebih fokus pada masalah antar wanita. Kajiannya melebar, mulai dari tauladan ibu sebagai pendidik pertama dan utama; kewajiban ibu dalam mendidik anak; masalah aurat wanita; masalah pamer dan berbangga-bangga; masalah hak ibu bekerja; management waktu; kebiasaan gosip di kalangan ibu- ibu dan sebagainya. Uniknya, ternyata ketika sampai ke arah solusi masalah untuk saling mengingatkan dan menasehati, ujung-ujungnya nya respon sebagian besar ibu-ibu tak lepas dengan kata- kata ini:

Tapi kan, saya maunya (want to) begini ….bukan harus (have to) begitu….

Tapi kan dia seharusnya (should) begini….bukan harus begitu……

Hemat cerita, para ibu-ibu di forum ini sangat sepakat dan sudah paham ‘ilmunya’ bahwa dalam melakukan suatu hal, lebih baik didasarkan pada keinginan sendiri (because I want to), dan bukan paksaan dari luar. Intinya, ‘want to’ bersifat menenangkan/menyamankan para ibu dari pada ‘have to’. Salah seorang  ibu bertanya pada saya “Benarkan mbak Lara, kalau kita melakukan sesuatu, kan gak boleh dipaksa ya?”. Ibu yang lain menambahi “iya, kalau dipaksa kan  gak bagus secara psikologis, bisa stress nanti!” Ibu yang lain lagi menutup komentar-komentar dengan kalimat yang ‘padat‘: “yang penting ‘ikhlas’, jangan ada paksaan, begitu lho!

Saya tak bisa menjawab secara langsung karena keterbatasan ilmu saya. Apalagi jawaban untuk berbagai pertanyaan dari para ibu tak mungkin saya jawab hanya dari kacamata psikologi saja, tapi harus dikaitkan dengan identitas kita sebagai muslimah, dengan ‘kacamata iman’. Saya memulai jawaban dengan sebuah cerita tentang pengalaman saya sekian tahun lalu saat kuliah untuk mendapatkan sebuah gelar profesi. Salah seorang dosen saya yang mengajar mata kuliah “Anxiety Disorder” pernah mengajak para student  secara bergantian untuk mengucapkan beberapa kalimat dan merasakan bagaimana dampaknya terhadap kondisi psikologis kita. Semua student mendapat giliran satu-satu. Saat seorang student mengucapkan kalimat nya dengan lantang, yang lain harus menyimak dan memerhatikan reaksi yang terjadi pada pembicara.

“I HAVE TO be a psychologist!”

“I SHOULD BE a psychologist!

“I WANT TO ‘be a psychologist!

Kami diminta merefleksikan perasaan dan gejolak masing-masing saat mengucapkan kalimat tersebut di depan kelas. Kalimat mana yang membuat nyaman, mana yang membuat khawatir dan gusar.  Status kami yang saat itu sebagai mahasiswa psikologi yang sedang praktek/magang, yang sedang berharap bisa lulus untuk mendapatkan sertifikasi, tentu cukup ‘bergetar’ mengucapkan kalimat-kalimat tersebut. Tentu saja seluruh kelas (hanya 11 mahasiswa sih) sepakat bahwa menanamkan ‘want to’ untuk diri sendiri akan lebih menenangkan jiwa daripada ‘have to’ yang seolah mengandung unsur keharusan/keterpaksaan, dan tersirat arti ‘tak boleh gagal.’  Saya pun setuju dengan ‘konsep’ yang masuk akal dan ‘manusiawi’ ini, apalagi pencetusnya adalah orang-orang intelektual yang sudah melakukan berbagai penelitian tentang kondisi psikologis manusia.

Namun hemat saya, konsep tersebut belum tentu berlaku dalam konteks lain dengan skala yang lebih luas. Apalagi dalam konteks kehidupan  sebagai seorang muslim/muslimah, tentu tidak ‘sesederhana’ sebagaimana hasil penelitian manusia semata. Bagaimana mungkin kita bisa mengagumi dan mengikuti teori-teori yang dibuat oleh manusia, tapi mengingkari Firman Sang Pencipta manusia? Bagaimana mungkin kita mensejajarkan apalagi menomorduakan ilmu yang ada dalam Al-Quran dengan  ilmu hasil kajian manusia?

Sebagai seorang muslim/muslimah, kita paham bahwa dalam Islam ada berbagai aturan hukum, yang tidak semuanya cocok  jika didasarkan pada ‘want to’.  Ada  aturan tertentu yang memang ‘harus’ kita lakukan, bukan sekedar ‘mau’  kita lakukan. Ini tak terlepas dari status kita sebagai ‘hamba’ bukan sebagai ‘Sang Pengatur’. Tentu saja dalam menyikapi ini, harus ada prasangka baik  seorang hamba terhadap aturan dari Penciptanya.

Sebagaimana kita tahu dalam ilmu Fiqih, ada hukum yang sifatnya wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Komitmen sebagai muslim tak terlepas dari hukum-hukum tersebut beserta hak dan kewajiban di dalamnya. Untuk masalah ‘hak’, kita tidak harus mengambilnya, tapi kalau mau diambil ya silahkan. Tapi untuk masalah ‘kewajiban’ memang  itu harus dilakukan tapi kalau tak mau dilakukan ya harus siap dengan konsekuensinya. Alasan-alasan ‘logis’ kita untuk menghindar dari aturan yang ditetapkan oleh Sang Pencipta, hanya akan merugikan diri kita sendiri.

Lebih jauh lagi, ada kewajiban/keharusan sesama muslim untuk saling menasehati jika ada saudara kita yang khilaf atau salah. Tantangannya adalah, terkadang ‘nasehat baik’ seorang teman bisa dipandang cukup menyakitkan (secara manusiawi) bagi yang diberi nasehat. Kondisi ini terkadang  mempengaruhi keputusan kita untuk lebih baik diam dan membiarkan saudara kita dalam kelalaian. Misalnya, berapa banyak diantara kita yang merasa harus mengingatkan saudara kita yang lalai membayar zakat? Berapa banyak diantara kita yang merasa harus bersikap tegas menghentikan saudara kita yang hobi  bergunjing? Berapa banyak diantara kita yang mau menegur teman kita agar jujur dan tidak  mengakui  jerih payah sekelompok ibu sebagai ide/hasil karyanya pribadi? Berapa banyak diantara kita yang mau menasehati saudara kita yang sudah baligh, untuk segera menutup auratnya?  Apakah saat saudara kita berada dalam ‘ketidaktahuan/kelalaian’,  masih ada pilihan untuk kita: ‘harus memberitahu’ atau ‘tak harus’ memberitahu’?

Yang saya ingat dalam sebuah ceramah oleh seorang ustadzah, secara jamai Amar Maruf Nahyi Munkar hukumnya bisa wajib ain atau wajib kifayah tergantung kondisi. Yang jelas, kewajiban untuk mengajak pada kebaikan dan menjauh dari keburukan adalah ciri keutamaan sebuah umat. Dalam hadits disebutkan bahwa cara yang dilakukan bisa dengan tangan (kekuasaan), dengan lisan, atau dengan hati (sebagai selemah-lemahnya iman). Jika hati saja tak memiliki kebencian pada sebuah kemungkaran, maka Rasul mengkategorikan sebagai bagian dari kemungkaran itu sendiri. Wallahualam. Berbagai level ini menunjukkan bahwa secara individu semua orang wajib/harus mengajak pada kebaikan sesuai dengan kadar kemampuannya. Allah SWT memberikan tawaran amal dari yang terendah hingga tertinggi.

Kembali pada diskusi ibu-ibu tentang ‘have to’ dan ‘want to’ dalam perilaku kehidupan sehari-hari sebagai muslimah. Alangkah indahnya jika kewajiban dalam Islam yang mungkin belum menyentuh ‘want to’ kita, berusaha kita lakukan dengan niat baik sebagai suatu ‘kepasrahan’ seorang hamba yang harus dikerjakan. Inshaa Allah dengan terbiasa melakukan hal yang baik, kita akan ikhlas menerimanya dan suatu saat akan memiliki semangat untuk ‘want to’, dengan melanjutkan kebiasaan yang positif tersebut.

Bahkan berbagai cerita yang pernah saya tulis pun, bermula dari suatu ‘keharusan’ untuk berbagi hikmah. Tentunya dengan resiko akan ada pihak-pihak yang tersinggung.  Namun saya terus berharap dan berikhtiar untuk dapat menulis  dengan niat baik dari dasar hati, sebagai ekspresi ‘want to’ yang mengalir deras  dari dalam diri. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s