HIGHWAY TO HEAVEN

Oleh: Lara Fridani

4361271230_90dc69e935_z

Berbicara tentang tempat di surga pastilah terkait dengan segala kesenangan dan kenikmatan. Semua orang pasti sepakat ingin mendapatkan tempat di surga, namun belum tentu sejalan dengan cara yang ditempuh untuk layak mendapat tempat di sana. Saya menyadari perbedaan cara pandang ini  bukan saja terjadi di kalangan anak-anak, namun hingga manusia dewasa, kemudian tua.

Saya terkesan dengan cerita salah seorang anak saya tentang teman-teman sekolahnya yang berusia remaja, saat mereka mengomentari kebiasaan anak saya yang dianggapnya ‘primitif’. Mereka  yang tinggal di belahan bumi Melbourne, merasa kasihan dengan anak saya karena harus mematuhi berbagai  aturan agama.

“why is your life  so hard, man? You can not eat this, you can not drink that. Come on, enjoy your life! We are going to heaven too….!” (kenapa hidupmu begitu sulit, teman? Kamu tak boleh makan ini, tak boleh minum itu. Ayolah nikmati hidupmu. Kami juga akan masuk surga kok!)

Demikian komentar teman-temannya sambil tertawa, seraya meyakinkan anak saya bahwa mereka semua (yang beragama apa pun),  semuanya  akan sama-sama masuk surga. Teman-temannya yang lain mengangguk-angguk setuju. Bahkan ada yang menambahi dengan ‘referensi’ berbagai sumber, mengkaitkan dengan berbagai ilmu pengetahuan dan memberikan analisanya.

Sepulang sekolah, anak saya mengungkapkan rasa herannya atas pemikiran teman-temannya tersebut yang dianggapnya justru ‘primitif’. Anak saya mengatakan bahwa teman-temannya biasanya berpikir kritis dalam banyak hal, namun mengapa untuk memahami Konsep kekuasaan Tuhan, urusan ibadah kepada Pencipta dan sebagainya, mereka menganggapnya sebagai  hal yang sepele sehingga menyamaratakan semua yang mematuhi atau pun tidak mematuhi perintah agama, tak ada bedanya?

“Kenapa ya mi, kok ada orang-orang yang tidak mau beribadah, tapi suka bergaul bebas dan senang hiburan,  bisa sangat pede akan dapat tempat di surga? “

Saya merasa tak perlu mengomentari ‘kepedean’  teman-teman anak saya itu. Saya  hanya mengatakan pada anak saya bahwa sikap optimis ingin masuk surga memang penting, tapi harus diiringi dengan kesungguhan kita mengikuti petunjuk jalan yang benar agar bisa sampai ke sana. Ini artinya, jika sudah ada ‘persyaratan’ dari Pemilik Surga”, maka kita ikuti saja aturan Sang Pemilik, jangan ‘kreatif’ membuat aturan sendiri.

“Intinya, kalau ada orang yang bicara tentang agama tapi landasannya bukan Al Quran atau Hadits, jangan percaya dulu, tapi harus di cek lagi.  Kalau perkataannya sejalan dengan Al-Quran, berarti oke, kalau bertentangan atau tak jelas, tinggalkan saja. Referensi utama orang muslim kan Al-Quran, bukan surat kabar, bukan buku teks, bukan juga berdasarkan analisa orang yang tak punya dasar ilmu agama yang kuat. Apalagi jika orang tersebut akhlak sehari-harinya tak bagus.” Demikian petuah singkat saya mengakhiri percakapan kami. Anak saya mengangguk mantap. Alhamdulillah.

Pendekatan termasuk gaya komunikasi yang saya gunakan terhadap anak-anak saya yang sudah remaja ini, cukup berbeda dengan yang saya terapkan saat mereka kecil. Sebelum mereka baligh, saya memfasilitasi mereka untuk banyak bertanya dan  menggunakan daya kritisnya, terutama terhadap kejadian-kejadian nyata yang ada di sekeliling mereka.  Saya bisa berkompromi dengan pendapat mereka asalkan masih dalam batas kewajaran dan tidak bertentangan dengan ajaran agama, sebatas pengetahuan saya. Namun dengan ‘status’ mereka yang sudah baligh dengan berbagai hak dan kewajiban sebagai muslim yang melekat pada mereka, saya tak banyak memberikan ‘ruang’ bagi mereka untuk kreatif  ‘menebak-nebak’ dan ‘bermain-main’ dengan ayat-ayat Al-Quran.  Kekritisan mereka yang muncul sesekali pun lebih saya arahkan untuk berikhtiar agar hati lebih terbuka menerima kebenaran. Saya menjadi sadar bahwa mendidik anak untuk tawadhu (rendah hati) ternyata jauh lebih penting dan lebih sulit daripada mengajarkan anak  untuk ‘sekedar’ menjadi pintar dan kritis.

Sekalipun bidang ilmu yang saya geluti sejauh ini  cukup menjunjung kreativitas dimana berpikir kritis, ‘menembus batas’/out of the box, adalah hal yang sangat diapresiasi, saya tetap tekankan pada anak-anak saya maupun pada para mahasiswa saya (di Indonesia) yang mayoritas muslim, untuk bersikap sangat  ‘hati-hati’ untuk menginterpretasi aturan-aturan di dalam Al-Quran.

Saya ingin seperti ibu saya, seorang wanita yang sangat kritis dalam berpikir, namun tak berani berargumen dalam hal agama. Beliau selalu berprasangka positif dengan aturan-aturan dalam Al Quran. Beliau meyakini jika ada aturan tersebut yang ‘mengganjal’ di hati ataupun kurang bisa diterima dengan zaman/realitas saat ini, tentulah itu karena keterbatasan ilmu agama kita. ‘Bagaimana mungkin dengan kemampuan agama yang minim, kita  berani untuk menganalisa sesuatu yang ‘sangat besar’? katanya pada kami, anak-anaknya. Apa itu bahasa Inggrisnya, yang suka ibu dengar: “The right man, in the right place!” katanya pasti. Demikian pemikiran ibu saya yang  bisa menjadi tidak kritis lagi untuk urusan agama.

Dahulu saat kami remaja, kami menganggap peryataan ibu  sekedar sebuah ‘kepasrahan’ karena tidak punya kesempatan menjadi seorang sarjana. Namun ketika kami dewasa, bisa bersekolah lebih tinggi, belajar agama lebih dalam, dan bergelut dengan dinamika kehidupan, barulah kami menyadari bahwa nasehat-nasehat ibu kami tidaklah sederhana, tidak semudah ilmu akademik yang bisa kita terapkan dengan modal kepandaian.  Ini lebih kompleks karena harus menjauh dari kesombongan dan mendekat pada kerendah-hatian. Inshaa Allah. Aamiin.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni syurga; mereka kekal di dalamnya. (Huud:23)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s