Love All, but Trust a Few

Oleh: Lara Fridani

roomforromance_8

 

Seorang ibu bercerita tentang anak remajanya yang sedang kecewa berat karena merasa dikhianati oleh sobat yang dia sayangi. Mungkin bagi orang dewasa, masalahnya nampak sepele, karena hanya seputar ‘game’, namun ternyata ‘kisahnya’ tak sesederhana itu.

“Hanya 2 orang teman yang tahu password– ku. Aku yakin sekali dia yang ambil.  Karena  sebelumnya level game dia masih rendah, eh tiba tiba dalam sekejap bisa  jadi melejit tinggi. Dan yang bikin aku yakin, dia pakai ‘peralatan’ punyaku. Terus, dia pakai pamer segala di status  fb-nya, katanya ‘OOOH …LOOK AT MY NEW ITEMS MATE’….!” Kata sang anak sambil memanyunkan bibirnya dengan emosi.

Sang ibu hanya geleng- geleng kepala dan berusaha mencairkan suasana. ‘Sudahlah… masa gara-gara hal kecil begitu, kalian tak mau bersahabat lagi?“

Sang anak berbalik protes pada  ibunya. “Mom, If he is careless with small things, how can I trust him with other big matters?  You told me that we have to be ‘aman’……eh amanah! Temanku gak amanah!” sambungnya lagi masih berapi-api.

“Well okay….but you know… ‘A lie has no future’…. so please calm down! jawab sang ibu sekenanya.

Mempertahankan sebuah kepercayaan pada seorang sahabat  memang tidak mudah. Perlu kebersamaan, perlu keyakinan, perlu pengorbanan dan perlu bukti.  Di satu sisi, idealnya, sang sahabat harus punya kriteria tertentu untuk layak dipercaya sehingga  bisa menjaga  ‘password-password’ kita. Di sisi lain, Idealnya, kita pun harus waspada untuk memilih teman yang tepat  yang bisa dipercaya untuk memegang ‘amanah’ tersebut. Namun adakalanya, bocornya rahasia seseorang pada temannya tidak mengikuti  kedua ‘standar’ ini. Terkadang kita lupa bahwa dari sekian banyak teman yang kita sayangi, bukan tidak mungkin kalau hanya ‘a few’ yang bisa dipercaya.

Katakanlah tentang cerita yang lebih serius- bukan sekedar cerita game versi anak-anak- yang terjadi pada seorang ibu muda dengan karir bagus. Saat emosinya memuncak akibat bertumpuknya masalah seputar hubungan dengan suaminya, seorang teman kerja yang selama ini sering  berkolaborasi dengannya  dijadikannya sebagai tempat curahan hati. Sekalipun sang ibu  muda tidak punya keyakinan utuh, bahkan tidak punya bukti yang cukup bahwa teman kerjanya ini memang layak  dipercaya, apalah daya, di saat yang ‘sensitif’ itu, dialah  orang yang berada bersamanya. Jadilah dia membeberkan tentang ‘kelemahan’ suaminya sehingga   walau sekian tahun telah menikah, mereka belum dikarunia seorang anak.

Sang teman yang mendapat rahasia besar ini ternyata juga ingin berbagi ‘rasa prihatin’ tersebut kepada yang lain.  Tanpa bermaksud ‘membuka aib’ (katanya) , dia tuliskan dalam status fb-nya tentang dukacitanya tersebut. Jadilah tebak menebak di antara para pembaca status hingga rahasia sang ibu muda menyebar ke seluruh sudut kantor. Komentar pun berdatangan mulai dari pernyataan ikut berempati hingga pernyataan yang menunjukkan ego diri.

“Aduuuh kasihan ya, dia tertipu…untung suamiku gak begitu!”

“Ya ampuuun, kenapa masih bertahan sampai sekarang?!”

“ Makanya, nyari jodoh kok sembarangan, bukannya lihat-lihat dulu!”

Solusi dari berbagai cerita ini bisa berhenti pada  ‘sad ending’, jika kedua belah pihak tidak punya standar yang ‘jelas’ sehingga terus berargumen karena tak mau disalahkan. Dalam kasus game, ketika sang anak menegur ketidakjujuran temannya karena mencuri ‘password’nya, sang teman spontan membuat pertahanan diri. Mulai dari tidak mengaku berbuat, hingga terpojok harus mengaku, tapi akhirnya membagi  kesalahan tersebut bukan hanya untuk dirinya, tapi juga pada pemilik password karena sang teman  merasa  harga dirinya menjadi jatuh di depan teman yang lain. Dalam kasus rahasia sang ibu muda, teman sekantornya tak mau dipersalahkan karena saat curhat sang ibu muda tidak mengatakan padanya untuk berjanji tidak menyebarkan aib ini ke teman-teman yang lain. Apalagi dalam statusnya dia tidak menyebutkan nama sang ibu muda sama sekali.  Sungguh ‘tricky’.

Keluar dari konteks ‘sekedar cerita’, saya sangat terkesan dengan nasehat  guru saya mengenai praktek menjaga kepercayaan atau amanah ini. Beliau mengingatkan Firman Allah tentang keyakinan orang –orang yang beriman bahwa Allah maha mengetahui segala yang kita sembunyikan dan segala yang kita nyatakan. Beliau juga mengatakan bahwa orang beriman memiliki ‘standar yang jelas’ tentang amanah. Ada beberapa tingkatan amanah yang harus kita lakukan. Prioritas utama adalah amanah Allah, amanah Rasullullah, barulah kemudian amanah antara sesama orang beriman. Melaksanakan amanah Allah dan RasulNya adalah yang terpenting, terbesar dan terberat tanggungjawabnya. Seseorang yang mampu menjaga amanat Allah dan RasulNya pastilah mampu untuk menjaga kepercayaan sesamanya.  Dengan kemampuan menjaga amanah /kepercayaan Allah dan Rasulnya, hal ini  akan menjadi pertahanan yang kuat bagi seseorang untuk melaksanakan amanah sebaik-baiknya. Sebaliknya, akan sangat berat bagi seseorang untuk bisa melaksanakan kepercayaan yang diberikan sesama manusia jika kepercayaan dari Allah dan Rasulnya dia abaikan.

Suatu kepastian bahwa aturan dalam  Islam sangat bermanfaat sebagai rujukan pertama bagi kita dalam memilih teman-teman yang amanah. Jika ada pengalaman masa lalu kita yang ‘tidak sukses’ dalam memilih teman yang bisa dipercaya, tentunya bisa dijadikan sebuah pelajaran yang berharga. Selanjutnya, kita perlu terus menata diri untuk menjalankan amanah Allah dan RasulNya agar bisa menjadi orang yang dicintai dan menjadi bagian dari  ‘a few people’ yang layak untuk dipercaya. Aamiin.

 

Rasulullah SAW bersabda :

Tidak ada iman bagi orang yang tidak menunaikan amanah. Dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s