Take It Easy

Oleh: Lara Fridani

a-easy

 

Seorang ibu mulai kewalahan menangani anaknya yang berusia 5  tahun karena sering  mengamuk di pagi hari. Masalahnya bukan karena sulit bangun tidur atau sulit mandi atau sulit makan, sebagaimana yang biasa dihadapi para ibu saat mempersiapkan anak berangkat ke sekolah. Tapi ini urusan pilihan makanan dan minuman. Anaknya suka minuman yang sangat manis, suka pula roti dengan gula yang banyak.

‘Mau tidak ibu kasih tahu? Nih, kalau makan gula kebanyakan, nanti kamu susah konsentrasi belajarnya. Senangnya loncat ke sana ke mari! ‘Kata sang ibu seraya menahan emosi.

Tampaknya nasehat itu sudah puluhan bahkan ratusan kali diberikan oleh sang ibu. Dan selalu dimulai dengan penawaran dulu, seolah sebuah pilihan: Mau tidak ibu kasih tahu? Mau tidak ibu nasehati? Mau tidak ibu bilangin? dan sejenisnya. Tentunya tanpa menunggu pilihan dari anaknya, sang ibu akan meneruskan pemberian nasehatnya. Begini ya nak, bla…..bla…..bla.

Hingga suatu ketika anaknya ‘sudah pandai’ untuk men-stop nasehat ibunya. Sebelum ibunya bicara panjang lebar, sang anak sudah bicara duluan.

’Aku tidak mau dengar!’

‘Aku tidak mau nasehat!’

‘Aku tidak mau dibilangin!’ bla….bla….bla…

Demikian teriakan sang anak sambil menghentak-hentakan kakinya. Bahkan sesekali memukul punggung sang ibu dari belakang. Luar biasanya sang ibu, sekalipun teriakan dan pukulanlah yang didapat, tetap saja nasehat demi nasehat terus bergulir. Sang ibu berpikir simple saja dengan mengingat nasehat sang nenek, bahwa nasehat baik untuk anak harus terus kita berikan dengan sabar, walaupun sering diacuhkan oleh anak. Kata sang nenek, berdasarkan pengalaman, suatu saat nanti anak akan patuh karena nasehat dari ibu terbukti kebenarannya, bahkan jika besar nanti, ia akan mencari-cari ibunya untuk minta nasehat. Tentu bentuk nasehatnya sudah lebih abstrak, bukan hanya seputar makanan dan minuman, tapi sudah menyentuh masalah sikap, perilaku atau akhlak. Tapi menunggu waktu itu datang, bukanlah jarak yang pendek.

Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa memberi sebuah nasehat itu lebih mudah daripada menjalankan sebuah nasehat. Bisa jadi itu benar, namun nampaknya paradigma ini bisa bergeser sedikit demi sedikit. Di zaman yang semakin kompleks saat ini, dimana pilihan ‘standar kebenaran’ ada banyak ragamnya, orang akan berhati-hati dan berpikir dua kali dalam memberi nasehat. Sekalipun nasehat itu pada dasarnya baik kandungannya, ada pula orang yang bisa menjadi  tersinggung, marah, mendebat, bahkan ada yang membalas balik sebuah nasehat dengan kecaman. Tidak sedikit pula hubungan pertemanan jadi merenggang karena masalah nasehat. Siapa yang berani mengambil resiko ini, saat berniat baik tapi ‘keburukan’ yang didapat.

Ada pula orang yang lebih mempermasahkan ‘cara’ dalam memberi nasehat. Katanya mereka akan menerima nasehat yang disampaikan dengan cara yang baik. Sepertinya ini wajar saja, karena namanya manusia tentu akan senang jika ‘dirangkul’ dan dihargai.’ Namun masalahnya orang yang memberi nasehat dengan cara yang tegas biasanya juga punya pertimbangan dan ‘standar ’ tersendiri. Mungkin dia sudah sampai pada tahap ‘gemas’ bagaimana mungkin orang yang sudah dewasa, satu agama pula, tidak bisa membedakan perilaku yang baik dan yang buruk.  Berapa banyak orang dewasa yang mengaku sebagai intelektual muslim tapi kehadirannya tidak membuat nyaman sekelilingnya. Katakanlah bapak Fulan, orang yang intelektual, tapi punya kebiasaan merendahkan orang lain. Tidak banyak yang mau memberi nasehat padanya karena dia pandai berdebat. Bisa-bisa kesalahan akan ditumpukan pada pemberi nasehat.

‘Saya  tak nyaman satu tim dengan bapak Fulan. Kebiasaannya  itu lho yang suka memandang rendah orang lain. Ya pantas saja karena melihatnya ke bawah terus, gak kelihatanlah sama dia kalau ada banyak orang pintar di atasnya. Harusnya seorang intelektual kan tidak seperti itu! ‘

‘Lho bukannya justru orang yang intelek biasanya memang sombong? Lihat saja ibu Fulanah, dia itu kan bukan bos  kita, tapi kok maunya memegang kendali. Boro-boro  ‘Ing Ngarso Sung Tulodo’ (di depan memberi tauladan), gara-gara dia, semangat kita sudah patah di tengah jalan.’

Karena ketidakberanian memberikan nasehat secara langsung pada saudara sesama muslim, jadilah gosip , yang tidak kalah buruknya , lebih menggema di sekeliling. Tampaknya, nasehat itu tetap penting.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

‘Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang terzhalimi’. Kemudian para sahabat bertanya, ‘Menolong yang terzhalimi memang kami lakukan, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zhalim?’. Rasulullah SAW menjawab, ‘Mencegahnya dari terus menerus melakukan kezhaliman itu berarti engkau telah menolongnya’. (Bukhari dan Ahmad).

Keyakinan kita untuk melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai suatu kebaikan harus didasarkan pada Al Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai suatu standar yang pasti. Jika kita berstandar hanya pada moral dan etika yang terkait dengan budaya masyarakat setempat, tentulah ‘kebenaran’ menjadi bias. Standar nilai moral sifatnya lokal dan relatif temporal, sedangkan standar akhlak sifatnya universal dan tetap/abadi. Sebagai contoh, budaya tertentu bisa jadi tidak menganjurkan kita untuk menasehati langsung orang lain karena dapat menyinggung perasaan mereka. Budaya lainnya bisa jadi memiliki standar moral tertentu dimana  suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai islam dianggap sebagai hal yang baik dan wajar karena banyak orang terbiasa melakukannya.  Dengan demikian  akhlak yang baik pada dasarnya adalah perpaduan dari keyakinan dan syari’at yang bersatu dalam diri seorang muslim.

Masih seputar amar ma’ruf dan nahi munkar, para salafus shalih memberikan contoh yang luar biasa.  Dalam suatu kesempatan bersama para pembesar sahabat, salah seorang berkata pada Umar bin Al Khatab RA :

‘BERTAQWALAH PADA ALLAH WAHAI UMAR!”

Para sahabat yang mengetahui tingkat keislaman Umar (sebagai salah satu sahabat yang dijamin masuk surga), marah kepada orang tersebut. Namun Umar RA berkata: Biarkanlah dia berkata demikian, sesungguhnya tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mengatakannya, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak mau mendengarnya.’

Dengan demikian saling menasehati sesama muslim adalah suatu kewajiban. Memberikan dorongan ataupun peringatan pada saudara kita yang khilaf adalah tanggung jawab bersama. Menerima nasehat untuk kebaikan pun hendaknya diterima dengan lapang dada, bahkan kita perlu berterima kasih pada pemberi nasehat.  ‘Take it easy, but take it!’ Sudah waktunya bagi kita untuk mengasah kepekaan dan senantiasa menghadirkan  kebaikan untuk mencapai ridho Allah SWT. Wallahu a’lam

One thought on “Take It Easy

  1. nasehat menasehati ini memang selalu menjadi permasalahan yg cukup sensitif.apalagi ketika kita melihat sesuatu kemungkaran di depan mata…akan diamkah atau bicara…diam tapi tersiksa bicara malah dimusuhi…walaupun penyampaian yg indah terkadang jg sulit diterima…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s