History and Her-story

Oleh: Lara Fridani

Sebuah keluarga besar-extended family- sedang berkumpul untuk makan malam bersama seraya menonton acara ‘berita’ di TV. Seperti biasa, pertanyaan dan komentar dari kepala rumah tangga, ibu rumah tangga,  nenek, paman, bibi, anak, ponakan, bergulir bergantian seolah tak mau ketinggalan untuk meramaikan berita tersebut.

“Gak nyangka ya, ternyata orang ini sama saja jeleknya dengan yang lainnya!“ kata sang bibi memulai pembicaraan.

“Iya, beritanya lagi ramai di surat kabar. Bingung juga sih bacanya, kalau melihat dari wajahnya, kok kayak orang baik-baik ya?!” sambung ibu rumah tangga mengomentari.

“Ooooh, ini ya orangnya yang lagi ramai dicaci-maki di group-group FB!Tapi kok banyak juga ya yang membela dia. Memang parah ini orang!” Sang anak dan ponakan ikut nimbrung.

“Yaaah, jangan langsung percaya dong sama satu-dua surat kabar, apalagi cuma dengar obrolan  orang-orang.  Cek juga dari sumber berita lainnya. Terus…pakai nih logika, sama hati nurani!” nasehat sang paman tak kalah semangatnya.

“Jadi orang  ini kena fitnah  atau bukan?”Tanya sang nenek dengan polosnya

“Begini…..yang namanya manusia itu kan bisa khilaf, tapi bisa juga  dituduh, bisa juga dijebak. Kita yang tidak tahu ini jangan ikutan sok tahulah. Apalagi buktinya tidak jelas. Kalau dia memang jahat, Inshaa Allah dia akan dapat hukumannya cepat atau lambat. Tapi kalau dia ternyata orang baik, yang ikutan caci maki  dan mengolok-olok ini bakal rugi kena dosa juga, jadi hati-hati kalau bicara!” Tegas kepala rumah tangga mengambil alih  pembicaraan. Semua terdiam.

Kita memang memiliki keterbatasan untuk mengetahui keseharian orang-orang yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik. Kita tidak tahu- atau memang tidak diberitakan di media- keseharian mereka, apakah  rajin beribadah dan peduli pada  masyarakat atau sebaliknya suka melakukan maksiat dan mengambil hak-hak rakyat. Namun demikian, tentunya ada orang-orang di sekelilingnya yang bisa menjadi ‘saksi’ tentang sikap, perilaku/akhlak mereka  sehari-hari. Jika orang-orang ini jujur,  tentulah mereka  ini yang lebih ‘berhak’ berkomentar, bukan orang-orang yang hanya menduga-duga dari jauh, bukan pula mereka yang semangat  menyebar fitnah. Amat menyedihkan jika  sikap dan perilaku impulsif seperti ini- cepat menuduh tanpa bukti jelas- terjadi pada masyarakat kita, apalagi di kalangan yang mengaku dirinya beriman dan berpendidikan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab (33:58) yang artinya, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminah tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

Alangkah indahnya jika kita mendahulukan prasangka baik terlebih dahulu pada sesama muslim, apalagi yang selama ini dikenal sebagai orang baik-baik. Alangkah nyamannya jika sesama mukmin kita menganggapnya sebagai saudara, dimana rasa sayang, kasih dan doa kita panjatkan juga untuk mereka. Bukanlah akhlak seorang muslim, jika saudaranya sedang terkena musibah, mereka malah ikut senang, puas dan bahkan tertawa-tawa di atas penderitaan muslim yang lain. Seorang muslim tidak boleh ‘diganggu’ dengan perkataan dan perbuatan, tanpa alasan yang benar.

Rasulullah SAW bersabda:

“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan simpati ibarat satu tubuh. Jika salah satu organ tubuhnya sakit, maka seluruh oragan tubuh yang lain mengeluh sakit seperti demam dan tidak bisa tidur.”

Menguak kebenaran sebuah berita bukanlah hal yang simple. Ada pihak- pihak yang terkait, ada pihak-pihak yang berkepentingan, ada pihak-pihak yang berkuasa- bahkan mungkin ada  moment-moment tertentu yang ‘dikejar’.  Fakta sejarah yang sudah sekian lama berlalu  saja- dan sudah lepas dari kekuasaan pihak tertentu- bisa jadi punya dua  versi yang bersebrangan.  Katakanlah beberapa ‘pendahulu’ kita yang dulu masuk kategori pemberontak, penghianat dan sejenisnya, ternyata puluhan tahun kemudian baru terkuak bahwa mereka sebenarnya adalah para pahlawan yang taat beragama, yang  berjuang untuk kepentingan rakyat banyak, yang berjuang memberantas kedzaliman.  Atau bisa sebaliknya, yang dulu dianggap pahlawan dengan setumpuk jasa,  kemudian ketahuan ‘dosanya’ ternyata sangat besar pada rakyat.  Citra baik atau buruk memang  bisa dibentuk-salah satunya dari media- sejarah bisa direkayasa. Sejarah bisa menjadi topik diskusi yang tiada akhir. Penilaian pada seseorang sebagai  pemberontak atau pahlawan  tergantung pada beberapa hal- pandangan siapa yang menilai, juga melihat siapa saat itu yang berkuasa- tak lepas dari kepentingan politik.

Semoga sebagai muslim yang baik, kita memiliki kepekaan pikiran dan hati untuk bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang jujur dan bohong, mana yang bijak dan dengki. Yakinlah bahwa pada akhirnya, truth will out.

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka ( yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan) dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim. (QS Al-Hujuraat: 11).

One thought on “History and Her-story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s