The Weak can Never Forgive

Oleh: Lara Fridani

learn_to_forgive_yourself_by_sintuary-d3dxxxs

Dua anak perempuan  memprotes keras keputusan ibunya untuk menerima kembali ayah mereka yang sudah sekian lama  tidak memberikan nafkah pada keluarga. Setelah menikah-lalu cerai  dengan sekian jumlah  wanita, di usia menjelang 60 tahun, sang ayah ‘bertobat’ ingin kembali menjalani hidup bersama istri pertamanya.

‘Apa ibu lupa bagaimana ayah menyakiti hati ibu berkali-kali?’

‘Apa ibu tidak ingat saat-saat kita sulit mendapatkan uang, ayah dengan gampangnya memberi macam-macam hadiah untuk para istri mudanya?’

‘Sekarang saat ekonomi kita sudah baik, ayah ‘cuma minta maaf’ dan mau bergantung pada kita?’

‘Ya sudah, terserah ibu kalau mau memaafkan. Yang jelas, ayah harus  ‘menyelesaikan urusannya’ dengan kami berdua dulu!’

Pertanyaan sekaligus pernyataan  yang bertubi-tubi dilontarkan oleh kedua anak perempuan mereka -yang saat ini sudah dewasa dan berkeluarga- pada ibunya yang tampak pasrah, hanya duduk terdiam  dan sesekali meneteskan air mata.  Barulah setelah lelah  meluapkan emosinya pada ibunya, kedua anak perempuan tersebut menangis bersama. Sepertinya kata-kata kemarahan mereka tak akan cukup untuk mewakili rasa sakit hati pada ayah mereka yang sudah sekian lama menyesak di dada.

Perkara memaafkan bisa jadi bukan hal yang mudah bagi sebagian orang. Apalagi jika orang tersebut memiliki anggapan bahwa orang yang lemahlah yang biasanya mudah memberi maaf.  Padahal kemampuan untuk memaafkan adalah salah satu atribut orang yang kuat.  Orang yang sombong dan merasa ‘lebih’  belum tentu sanggup  untuk meminta maaf. Peribahasa mengatakan  it takes a strong person to say sorry, and even stronger person to forgive.

Salah satu contoh yang bisa kita teladani tentang keutamaan memberi maaf yaitu dari sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq RA, ayah Aisyah RA (istri Rasulullah SAW). Beliau adalah orang yang memiliki banyak kelebihan, namun tidak ‘sombong’ dan tidak suka ‘mendebat’ dalam menerima nasehat kebaikan.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Ketika Allah telah menurunkan keterlepasanku (dari berita dusta yang disebarkan kaum munafik), Abu Bakar Ash Shiddiq berkata tentang Misthah bin Utsatsah (kerabat yang dinafkahinya karena kemiskinannya, ) : ‘Demi Allah, selamanya aku tidak akan menafkahi Misthah sedikit pun, setelah apa yang dia katakan tentang Aisyah radhiallahu ‘anha“.

Kemudian Allah berfirman:

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Abu Bakar bersegera meminta ampunan Allah SWT.  Beliau berkata ‘Tentu, demi Allah, aku menginginkan agar aku diampuni Allah Ta’ala’. Kemudian  beliau memberi nafkah lagi kepada Misthah. ‘Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan nafkah untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Siapa orang yang tak pernah tersakiti dengan kata-kata seseorang;  siapa yang sama sekali tak pernah menyakiti dengan kata-katanya? Guru kami pernah menasehati para muridnya untuk berhati-hati dalam berbicara. Islam mengajarkan kita adab dalam berbicara, mendengar dan berdebat.  Orang yang suka mengumpat , mengolok-olok, menggunakan kata-kata kasar, menunjukkan lemahnya iman dan labilnya emosi orang tersebut. Dengan demikian orang-orang ini tetap ‘patut’ dikasihani. Beliau juga mengingatkan untuk menggunakan kalimat yang santun, menghindari kata kata mencemooh bahkan pada saat memberi nasehat pada orang-orang yang bersalah sekalipun. Namun jangan pernah menghina orang-orang shaleh, yang taat pada perintah Allah SWT. Kata ulama, sifat seperti ini akan menjadi tabir pemisah antara seorang hamba dan surga di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang beriman pada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam (HR Bukhari Muslim).”

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhoi Allah SWT dan dia tidak mengira akan mendapatkan demikian, sehingga dicatat oleh Allah SWT keridhoanNya bagi orang tersebut sampai hari kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari kiamat.” (HR Tirmidzi).

Namun sekalipun sudah mendapat nasehat yang begitu bijak dari sang guru, terkadang sulit bagi kami  untuk bisa mentolerir orang-orang yang mengolok-olok niat baik beliau, memfitnah beliau, mentertawai perjuangan dakwah beliau.  Ternyata memaafkan orang –orang yang menyakiti kita, menyakiti orang –orang yang kita kagumi,  bukan otomatis kita bisa melupakan dengan mudahnya kesalahan-kesalahan mereka. Namun kita berusaha untuk- letting go of the hurt– melepas rasa sakit itu. Sebagai muslim kita  tentu paham bahwa pada akhirnya, semua masalah bukan berakhir antara kita dan orang-orang yang menyakiti hati kita, tapi yang ada hanyalah  antara kita dan Allah SWT, Pencipta kita.

2 thoughts on “The Weak can Never Forgive

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s