Haters,.. get well soon!

Oleh: Lara Fridani

a716d781c3b5b4ea452ab784c6596883_image_210x210

 

Seorang remaja putri curhat pada ibunya sembari menangis tersedu-sedu sepulang sekolah.

‘Aku mau pindah sekolah saja ya bu!’ katanya sambil terisak-isak.

Sang ibu menarik napas sesaat, berusaha mengontrol emosi, seraya memberikan telinga yang simpatik.

‘Aku gak tahan bu, tadi diolok-olok lagi sama teman- teman. Katanya, aku sok manis,…..sok alim….sok bersih…..sok pintar,…suka cari muka… huhuhu!’lanjut nya menahan sakit di hati.

Sang ibu kemudian tersenyum, mulai memahami duduk persoalannya. Ternyata masalah anaknya masih seputar itu- itu saja. Seperti beberapa minggu sebelumnya, dikala putrinya tak mau bekerjasama saat ujian, Dia juga ‘disemprot ’oleh beberapa temannya sepulang sekolah. ‘Huuuuuu…. …..sok jujur!’

Saat dia dan beberapa sobatnya aktif di kerohanian Islam di sekolah, ejekan spontan masih menggaung.

‘Huuuuuuu….group sok alim!’.

Saat dia dan sobatnya mengajukan diri menjadi volunteer membantu gurunya membersihkan ruang perpustakaan, sekelompok temannya- masih orang yang sama- semangat berseru.

‘Hu… group pencari muka, ckckckck!’

Saat anaknya lupa mengerjakan PR dan ditegur oleh gurunya, teman- temannya tersebut seolah mendapatkan kebahagiaan yang telah lama ditunggu- tunggu.

‘Jiaaaaahhhh……. sang juara kena hukuman, wkwkwkwkwk!’

Namanya dunia remaja- dunia mereka yang sedang mencari identitas diri- memang tak bisa lepas dari storm and stress. Peran dan support kita sebagai orang tua dan pendidik dalam memberikan contoh/perilaku tauladan sehari-hari  tentu  menjadi modal awal. Sekedar nasehat pada anak untuk menjadi pribadi yang baik, jujur dalam bertindak, santun dalam berbicara , tanpa contoh dari kita, tentu saja tidak cukup. Sekedar perintah pada anak untuk percaya diri dalam melakukan kebaikan, berani mempertahankan kebenaran,  dan tegas dalam bersikap -tanpa mensupport mereka- tentu  saja tidak fair.

Bagaimana dengan dunia orang dewasa seperti kita? Masih adakah yang berada dalam proses mencari identitas diri? Masih adakah yang bingung memilih mana kata-kata yang baik dan buruk , mana sikap yang peduli, mana sikap yang dengki , mana sikap yang  menghasut? Masih adakah yang memberi nasehat pada anaknya- untuk bersikap baik, jujur, sopan, bertanggung jawab, penyayang dan sebagainya- tapi melanggar nasehatnya sendiri?

Jika ada orang yang berkata-kata tegas dan menunjukkan ketidaksukaannya pada perilaku buruk seseorang atau perilaku kelompok tertentu,  tentulah hal itu merupakan hal yang wajar.  Namun bisa menjadi tak wajar ketika kebencian itu tidak bisa surut dengan waktu, sekalipun orang yang bersangkutan sudah meminta maaf , tobat dengan memperbaiki perilakunya. Bisa menjadi subjektif ketika kebaikan- kebaikan lain yang ada pada orang tersebut dipukul rata sebagai sebuah keburukan, dicari- cari kekurangannya hingga dianggap tak ada hal yang dapat ‘diapresiasi’ darinya. Yang  di luar batas kewajaran  dan tidak objektif adalah jika ada orang yang benci dan ikut ikutan membenci seseorang atau kelompok tertentu yang ingin berbuat kebaikan tanpa melihat fakta yang ada. Dan yang lebih aneh  lagi adalah jika orang tersebut  merasa ‘demikian terhibur’ ketika orang yang bersangkutan sedang dalam masalah, sekalipun orang itu tak pernah menggangu dirinya, tak pernah pula merugikan dirinya. Apatah kiranya yang terjadi pada para haters ini – yang tidak senang dan berprasangka buruk pada  orang lain yang  ingin berbuat kebaikan, senang ketika orang lain dalam masalah? Apalah kiranya yang bisa membuat mereka mendendam kebencian jika bukan karena ada masalah pada diri mereka sendiri? Apakah  ‘just kidding’- terhadap olok-olokan yang dilontarkan bisa menjadi alternative jawaban yang ‘aman’ bagi mereka? Sungguh perlu kejernihan hati untuk jujur pada kelemahan diri sendiri.

Semua  yang sehat jasmani rohani – spiritual, tentunya sepakat bahwa orang yang benci pada orang yang berbuat kebaikan, pastilah orang yang punya penyakit.  Hanya  saja penyakit model ini tak mudah terlihat, tak mudah disadari keberadaannya, bahkan tak mudah diakui oleh yang bersangkutan. Selama penyakit dengki ini masih dipertahankan di hati, para haters akan selalu membenci ‘haters gonna hate‘ .    Kalau kita mau berpikir secara objektif, para haters ini tidaklah membenci orang baik- baik karena orang baik tersebut memiliki kelemahan- karena biasanya orang tak akan sedemikian membenci orang yang lemah. Tapi para haters biasanya benci-atau bisa jadi dengki- dengan orang yang memiliki kelebihan.

Rasulullah SAW bersabda ‘ Takutlah kamu semua akan sifat dengki  sebab sesungguhnya sifat dengki itu memakan  segala kebaikan  sebagaimana api memakan kayu bakar.’(HR Abu Daud).

Ekspresi benci itu pun bisa bermacam bentuknya; bisa lewat lisan, tulisan maupun sikap dan perbuatan. Biasalah, seperti pepatah mengatakan, ‘In every game, the audience make noise, not the players.’ Bentuk kedengkian yang ditunjukkan dengan kegembiraan saat seseorang terkena musibah, adalah tingkat kedengkian yang parah. Apalagi jika dengki tersebut berkembang menjadi hasutan ( baik secara langsung maupun tak langsung) dengan merekayasa informasi tanpa fakta,  dengan mengajak atau mengarahkan orang lain agar sama sama membenci seseorang atau kelompok tertentu. Ekspresi yang bisa bermula dari cara halus berupa’candaan’ hingga cara kasar dalam bentuk ‘hujatan’.

Orang mukmin akan senantiasa menjadikan Islam sebagai landasan dalam bersikap dan berperilaku. Mereka tak sombong untuk  mengintrospeksi diri, tak enggan untuk segera meluruskan niat dan membersihkan hati, tak malas untuk mencari tahu  bagaimana Islam memberikan aturan dalam berkata-kata, hingga memberikan batasan dalam bercanda, Seorang mukmin akan memposisikan  cinta dan benci pada landasan syariat, bukan emosi sesaat.

Salah satu tanda orang yang memiliki hati yang bersih adalah ketika merasa senang melihat saudaranya mendapatkan kenikmatan. Apabila saudaranya- sesama hamba Allah- mengalami musibah, dia ikut bersedih dan berdoa  agar Allah SWT meringankan penderitaannya. Jika hati kita ada masalah, kita melihat orang lain dengan pandangan mata kebencian, sehingga yang  terlihat semuanya tak luput dari cela,sekalipun faktanya ada kebaikan di dalamnya.  Jika hati kita tentram, kita melihat orang lain dengan pandangan positif, mau menerima nasehat dari orang lain untuk kebaikan.

Semoga curahan hati saya ini tidak mengandung kebencian atau menyulut kebencian bagi para pembacanya yang mau mengambil makna. Para haters– if this is including you and me-  Let’s make Dua (prayer) – Inshaa Allah, we will get well soon. Aamiin.

 

Ingatlah, hanya dengan dzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram.
(QS ar-Ra‘d [13] : 28)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s