Once Rumors Escape

Oleh: Lara Fridani

ESCAPE14

Sekelompok ibu-ibu pengajian sudah mulai merasa risih dengan kebiasaan seorang jamaah dengan ‘followernya’  yang kerap kali ‘berbagi informasi’ tentang perkembangan berita infotainment di berbagai media. Sudah menjadi rutinitas setelah pengajian, para ibu makan bersama menikmati santapan kue ala kadarnya dari beberapa jemaah. Di sela- sela acara makan inilah ibu X senantiasa membuka dan mendominasi tema pembicaraan seraya membagikan kue- kue buatannya untuk dicicipi. Kalau dulu para ibu sempat merasa terhibur dan asyik menimpali bahkan ikut mencaci maki kehidupan para selebritis, koruptor, dan sebagainya, tapi kali ini, setelah intens menyimak ceramah dari para ustadz dan ustadzah tentang bahaya ghibah, sebagian mulai sadar dan berbalik haluan. Dua tiga jamaah mulai menghindar saat ibu X mengomentari gosip terkini. Sebagian yang lain tampak tak bisa berkutik karena ibu X begitu ramah dan sangat terampil menarik perhatian.

“Ibu-ibu nonton gak infotainment kemarin? Iiih amit amit deh kok ada yah perempuan kayak begitu. Baru artis kemarin sore aja udah belagu. Mending kalau cakep ya bu,  make up-nya ketebalan tuh!”

“Eeeh jangan salah bu, dia itu katanya punya anak asuh puluhan lho! Waktu ulang tahun aja, ngasih hadiahnya ke anak- anak yatim!” Timpal  seorang ibu berusaha melihat sisi positifnya.

“Wah bu, percuma kalau kita ngasih sedekah terus pake pamer- pamer segala. Itu kan namanya Riya. Kok bisa bisanya pas lagi sedekah terus wartawan datang, kalau memang tidak dundang, hayo!”

“Kalau yang saya denger sih, katanya dia itu ‘punyanya’ si Anu lho. Anak-anak muda sekarang kok banyak yang matere ya. Capeee deh!”

Seperti biasa, berlanjutlah gosip tersebut hingga melebar ke sana kemari. Sebenarnya, beberapa kali ustadzah yang diundang dalam pengajian,  sudah menasehati secara halus dan berusaha mengalihkan pembicaraan mereka ke topik yang lebih bermanfaat. Sebagian ibu-ibu sudah semakin waspada tampaknya bahwa mereka yang suka bergosip di depan kita, mereka akan menggosipkan kita juga. ‘Whoever gossips to you will gossip about you.’Namun tampaknya ibu X dan followernya tidak sensitif untuk masalah ini. Dalam pertemuan berikutnya, semangat mereka  untuk ‘meramaikan suasana’ tetap berlanjut.  Sayangnya, semangat para jamaah lain yang semakin pudar.

“Saya lepas tangan deh ibu-ibu. Kayaknya percuma menasehati ibu X dan kawan-kawannya. Nasehat para ustadzah aja tidak mempan, apalagi kita-kita. Tak ada pengaruhnya deh, bikin cape!” kata satu-dua jamaah mundur teratur.

Memberi nasehat kebaikan pada seseorang dengan ‘mengharap sangat’ nasehat itu akan diterima dan dijalankan oleh yang bersangkutan,(tetapi nyatanya orang yang diberi nasehat tetap semangat menjalankan kebiasaan buruknya), ternyata bisa berefek  melelahkan, bahkan ‘jera’ bagi pemberi nasehat. Padahal memberikan nasehat dan mengucapkan kata-kata kebaikan pada orang lain adalah amalan yang besar di sisi Allah SWT.

Saya pernah mendengar nasehat bijak seorang ustadz yang mengingatkan kami bahwa di dalam Al Quran tidak ada jaminan kalau orang yang kita beri nasehat bisa mendapatkan hidayah. Beliau mengatakan agar kita menyadari bahwa nasehat kebaikan yang kita berikan, manfaatnya pertama kali adalah untuk diri kita sendiri (sebagai pengingat diri kita), bukan untuk orang lain. Beliau mengibaratkan bahwa organ yang paling dekat dengan mulut kita adalah telinga kita. Jadi segala perkataan yang keluar dari mulut kita, didengar pertama kali oleh telinga kita. Demikian juga saat kita mencuci baju dengan tangan kita, yang pertama kali bersih adalah tangan kita, sedangkan bajunya belum tentu bersih. Dengan demikian, nasehat kita paling banyak manfaatnya untuk kita. Semakin banyak kita berkorban, maka sejauh itulah Allah SWT  akan memperbaiki diri kita.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu­ dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.” (QS. Al Ahzab 70-71)

Menasehati diri sendiri maupun orang lain untuk menghentikan gosip, memang bukan perkara mudah. Apalagi jika masih ada yang menganggap bahwa gosip adalah hal yang wajar, sebuah hiburan, sebuah selera, bahkan kebutuhan bagi sebagian orang, sehingga tak perlu dilarang. Orang yang bergosip  berarti membicarakan keburukan seseorang di belakangnya, dimana seringkali terselip ‘menghakimi orang lain’, yang belum tentu ada hubungannya dengan kita.

Terkait dengan hal ini, Islam mengajarkan kita akan bahaya ghibah. Para ulama sepakat bahwa ghibah adalah sebuah dosa besar, kecuali ghibah atas perkara-perkara yang diperbolehkan oleh syariat, seperti orang yang mengadu pada hakim karena dirinya terdzholimi; meminta bantuan agar pelaku keburukan kembali pada kebenaran, memperingatkan kaum muslimin agar terhindar dari kejelekan seseorang dan sebagainya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Tahukah kalian apa itu ghibah?”Mereka (para sahabat) menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Engkau menyebut-nyebut saudaramu tentang sesuatu yang dia benci.” Kemudian ada yang bertanya, “Bagaimana menurutmu jika sesuatu yang aku sebutkan tersebut nyata-nyata ada pada saudaraku?” Rasulullah SAW menjawab, “Jika memang apa yang engkau ceritakan tersebut ada pada dirinya itulah yang namanya ghibah, namun jika tidak, berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (HR Muslim)

Islam juga mengajarkan kita agar berhati-hati dengan informasi yang belum jelas kebenarannya. Allah mengingatkan kita dalam firmanNya.

‘Ingatlah ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang kamu tidak ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah, itu soal yang besar (QS 24:15).

Sungguh memprihatinkan rasanya jika masyarakat kita semakin  ‘berselera’ dengan berbagai berita yang belum jelas benar tidaknya, namun keburukan berita tersebut begitu cepat penyebarannya, spontan  tanpa kendali.Tampaknya fenomena  gosip lebih  mudah untuk dibuat ‘mengambang’ daripada dibuat ‘tenggelam’. Semoga kita bisa memulai dari lingkup kecil dengan meningkatkan keimanan kita agar mampu menghentikan kebiasaan gosip pada diri kita dan orang –orang di sekitar kita. Aamin Ya Rabb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s