As Young as Our Faith

Oleh: Lara Fridani

faith-road-sign-with-dramatic-clouds-and-sky

Sesaat saya tertegun membaca komentar sekelompok remaja yang baru saja mendengar kabar berita bahwa salah satu temannya mendadak meninggal dunia.  Berita tersebut segera menyebar cepat di jejaring komunikasi sosial.  Selain ucapan belasungkawa yang terlantun di akun grup tersebut (entah ditujukan kepada siapa), ucapan nasehat kepada sesama teman agar saling menguatkan juga terus mengalir. Yang memilukan adalah ketika topik berita menjadi begitu ramai dengan ungkapan satu dua teman yang mengingatkan kembali cerita-cerita lucu, kenakalan, dan segenap kegembiraan lainnya yang mereka lakukan bersama almarhumah. Beberapa foto kenangan bersama almarhumah di berbagai suasana dengan sigap terus di-upload. Jadilah ungkapan rasa kangen dengan moment-moment  bersamanya semakin meluncur deras . Ekspresi kesedihan ‘memanggil’ pilu almarhumah di group tersebut juga sempat terlantun, padahal sudah jelas almarhumah tak  akan membacanya.

“Yaaa ampuuuun, gak nyangkaaaaaa, kenapa cepat banget kamu meninggalkan kitaaaaa …..”

“hahhhhhh….gak percayaaaaaaa, minggu kemarin kan kita baru ketemuan…..”

“(speechlessssssssss)”

“Sediiiih bangeeeet…. gak bisa kumpul lengkap seperti dulu lagi, huuuuhuuu!”

“Waduh….saya kok ketinggalan berita. Sabaaaaar semua yaaaaa, aku juga down banget nih, takut mati jugaaaa…..eh sudah pada  melayat beluuum?”

You may delay, but time will not. Semoga para remaja ini cepat memahami dan orang tua mereka cepat menyadari untuk memberikan pendidikan agama pada mereka tentang sikap seorang muslim mendengar berita kematian. Kesedihan keluarga, kerabat dan teman-teman adalah hal yang sangat wajar, namun komentar dan upload foto foto beliau yang berlebihan- ke sana ke mari-  tak akan merubah keadaan. Everything that happens to you  do not matter to her. Amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat dari beliau-lah yang Inshaa Allah bisa membantunya meringankan azab kubur.

Kematian tidaklah menjadi sesuatu yang menakutkan  ketika seseorang meninggal dalam keadaan beriman. Allah menjanjikan tempat yang mulia, kebahagiaan yang tanpa putus pada orang yang beriman dan bertaqwa. Memang tidak mudah memahami bahwa kenikmatan hidup di dunia ini hanyalah sedikit dibanding dengan kehidupan di akhirat. Perlu perjuangan  pula untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan meninggalkan segala laranganNya. Inshaa Allah, we learn as we go.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.” (QS 4: 77)

Saya  teringat dengan  sahabat almarhumah yang wafat saat usia beliau juga masih terbilang  muda, 30- an tahun. Mendengar berita wafatnya, hati ini begitu pilu. Beritanya pun  disebarkan di jejaring komunikasi sosial, tapi alhamdulillah komentar yang mengalir adalah panjatan doa buat beliau, bukan lagi komentar ‘ala remaja’. Satu- dua teman mengingatkan bagaimana sikap beliau yang menonjol- muslimah santun, sabar dan rendah hati- masih terngiang di ingatan kami. Bagaimana kegiatan dan semangat dakwah almarhumah  sewaktu hidup bisa menjadi contoh bagi teman –teman yang lain. Bagaimana pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran beliau bermanfaat buat keluarga dan banyak orang di sekelilingnya hingga kini. Ketegasan almarhumah sebelumnya untuk memutuskan dan melakukan action kegiatan mana yang akan beliau dahulukan, kegiatan apa yang  dikurangi, dan kegiatan apa yang harus segera ditinggalkan,  menjadi bekal persiapan beliau.  Sebuah  bekal keimanan yang terpelihara  dan amal ibadah yang dilakukan secara ikhlas yang Inshaa Allah menjadi bekal di akhirat.

Ajaran Islam menjelaskan bahwa semua yang hidup tak bisa mengelak dari kematian. Saat mendengar berita kematian, seorang muslim dianjurkan untuk segera mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raajiuun, yang artinya bahwa sesungguhnya semua itu adalah milik Allah dan akan kembali kepadaNya.Setiap mukmin juga dianjurkan untuk dapat memberi manfaat bagi mukmin yang lain, baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia dengan saling mendoakan.  Rasulullah SAW bersabda “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata “dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR Muslim).

Panjang dan pendeknya usia seseorang berada dalam wilayah takdir Allah SWT. Kehidupan kita diukur dengan seberapa besar kita melakukan kewajiban kita, seberapa besar keberadaan kita bermanfaat untuk umat. Dengan demikian yang dapat kita lakukan di sisa usia kita adalah meneguhkan tujuan hidup kita, meningkatkan keimanan dan amal shaleh kita, memperbanyak rasa syukur dan  mencapai derajat hidup yang diliputi kebaikan.  Guru saya pernah menasehati, khususnya bagi kita yang sudah mencapai usia 40 tahun bahkan lebih, sudah saatnya untuk mengurangi tidur dengan memperbanyak ibadah. With age comes wisdom. Tidaklah pantas orang seperti kita yang berada di ujung kematian berlaku lalai, dan bermain main dalam beribadah. Beliau mengibaratkan kita agar bergerak seperti bumi yang terus berputar sesuai perintahNya, bergerak di jalan dakwah hingga ruh ini berpisah dengan jasadnya. “Ya Allah naungilah kami dengan hidayah dan taufiqMu, matikan kami dalam keadaan khusnul khatimah. Aamiin.”

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada Allah kami semua akan kembali.Ya Allah! Tulislah dia (yang meninggal dunia) termasuk golongan orang-orang yang berbuat kebaikan di sisi Engkau dan jadikanlah tulisannya itu dalam tingkatan yang tinggi serta gantilah ahlinya dengan golongan orang-orang yang pergi dengan ketaatan padaMu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s