Beyond Logic and Rasionality

Oleh: Lara Fridani

Beyond

Seorang ibu lansia  merasa gelisah mendengar penuturan anak laki -laki semata wayangnya yang dulu menjadi kebanggaannya. Sejak kecil segala upaya dikerahkan dan biaya dikeluarkan untuk mendidik anaknya agar menjadi cerdas, kritis, teguh pendirian dan memiliki berbagai ketrampilan.  Tak heran, jika kini anaknya tumbuh menjadi pria dewasa yang  sangat percaya diri, terpandang, dan punya karir yang membanggakan. Yang disesalkan sang ibu adalah ‘kelebihan’ yang dimiliki anaknya itu ternyata tidak seiring  dengan meningkatnya keimanannya sebagai seorang muslim. Di usia menjelang 60 tahun barulah sang ibu tersadar untuk segera mendekatkan diri pada agama. Namun  ternyata tidak mudah baginya untuk bisa berbagi ‘spirit’ ini bersama  anaknya. Nasehat agama yang diberikan berkali- kali oleh sang ibu agar anaknya menunaikan kewajiban sholat, berhaji dan sebagainya,  direspon  hanya dengan  logikanya saja.

“Begini ya ma, coba mama lihat…. berapa banyak orang yang rajin sembahyang dan rajin mengaji, tapi kelakuannya tidak berubah kan? Mereka cuma rajin ke  mesjid untuk kepentingan diri sendiri, tapi mana manfaatnya untuk  orang lain?”

“Begini ya ma , mama pernah dengar sendiri kan cerita teman mama saat naik haji, ternyata banyak orang di sana yang egois, berebutan dan sikut menyikut saat beribadah. Belum lagi  aturannya yang  tak masuk di akal ma. Itu lho ma, yang katanya saat ihram, kita  tak boleh pakai pakaian berjahit- lah, gak boleh pakai wewangian- lah. Ini alasannya apa, kita kan tak bisa terima perintah begitu saja ma.”

“Pokoknya begini ya ma,  yang penting kan hati kita  ini baik. Hidup kita gak macam- macamlah,  kita kan juga kasih sedekah  sama orang miskin. ” demikian petuah sang anak panjang lebar.

Sang ibu  terdiam,  tak punya ketrampilan untuk bisa menepis pernyataan anaknya, beliau hanya mengungkapkan ketidaksetujuan di dalam hati, sebagai bentuk selemah-lemahnya iman. Beliau pun tak punya  ide, darimana harus menjelaskan pada anaknya agar mau berlapang dada menerima perintah agama. Beliau hanya bisa berdoa agar anaknya tidak termasuk golongan orang-orang yang hatinya berpenyakit.

Ketika kecerdasan dan ketrampilan hidup yang distimulasi orang tua sejak awal pada anaknya tidak didasarkan pada syariat dan terlepas dari konsep akhlak sebagai muslim, maka tidak mengherankan jika seorang anak ‘tidak hidup’ hatinya, kecuali jika ada hidayah dari Allah SWT. Batasan kecerdasan versi barat dan Islam memang berbeda. Pandangan Islam tentang kecerdasan, lebih mengutamakan sudut pandang ruhiyah di samping lahiriyah.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsunya dan beramal untuk masa sesudah mati, sedang orang yang lemah ialah mereka yang mengikuti nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” (HR. Ahmad).

Kecerdasan dalam pandangan islam bukanlah sekedar kemampuan berpikir rasional dengan logika, namun merupakan keterpaduan antara pikiran dan dzikirnya, suatu bentuk kerjasama antara otak dan hati. Ajaran Islam lebih cenderung menggarap hati agar menjadi baik. Aturan sholat, puasa, zakat, haji dan sebagainya adalah sarana untuk melembutkan kualitas hati ini. Dengan demikian kecerdasan dalam pandangan Islam selalu melibatkan kerendahatian dan pikiran  positif terhadap aturan dari sang Pencipta.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang menjadikan pikiran-pikirannya menjadi satu pikiran yaitu pikiran akhirat, Allah cukupkan masalah dunianya. Dan barang siapa yang pikirannya bercabang-cabang di urusan dunia, Allah tidak perduli di lembah dunia mana dia akan binasa.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim)

Memang sulit bagi seseorang untuk menerima apalagi menjalankan sebuah perintah agama yang kadang tidak masuk dalam logika, jika dia  terbiasa dan terlatih dengan nilai-nilai yang mengedepankan  akal saja, kecuali jika Allah SWT berkehendak memberi hidayah padanya.

Guru saya  pernah menjelaskan bahwa akal/logika jika digunakan secara tepat, maka bisa meluruskan pikiran seseorang  untuk mencapai kebenaran. Peran pendidik termasuk orang tua dalam hal ini  sangat besar dalam menjelaskan dan memberi contoh  keterbatasan akal dan panca indera manusia dalam memahami sesuatu, baik ditinjau dari segi pengetahuan sains maupun dari sudut pandang agama. Penanaman  nilai-nilai keimanan juga harus dilatih sejak dini sehingga anak memiliki kesadaran atas keterbatasan dirinya sebagai hamba Allah, sehingga  memudahkannya  untuk mendahulukan kepatuhan dan keikhlasan dalam  menjalankan perintahNya.  Kecerdasan yang  tunduk pada keimanan semacam inilah yang bisa  membawa ketenangan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Iman bukanlah sekedar dari sikap menerima dan setuju, tetapi lebih kepada cinta yang kuat yang terhubung erat dengan kepatuhan.  Ketika iman didahulukan, tak akan ada bantahan dan alasan  untuk menghindar dari  perintah Allah SWT. Iman yang stabil akan melembutkan hati, sedangkan iman yang labil akan mendorong logika dan hawa nafsu. Wallahualam.

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2 : 74)

2 thoughts on “Beyond Logic and Rasionality

  1. maka daripada itu, memberikan landasan agama yang baik kepada anak sangatlah penting, jangan sampai poin ini terkalahkan oleh poin ingin anak sukses secara keilmuan ilmiah saja
    *pendapat saya*

    salaam kenal, Pak
    Nie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s