When Pride Comes

Oleh: Lara Fridani

Pride Road Sign - 7 Deadly Sins Series

Nanti acara perpisahan sekolah, pakai baju yang ‘ngejreng’ yuk, biar keren! Ngapain malu? Pede aja gitu lho!”

“ Yah…..masa sama guru aja takut. Paling resikonya dimarahin.  Bagaimana nih, jadi ikut bolos gak?

“ Woi..dosa gak usah dipikirin. Mana ada manusia yang gak pernah berbuat dosa. Santai aja kenapa sih?

“Kalau bukan aku yang waktu itu ada ide, mana bisa kita buat acara rame-rame kayak gini!”

Banyak orang yang beranggapan bahwa keberanian anak untuk tampil beda, keberanian melontarkan ide, keberanian mengambil resiko dan segenap keberanian lainnya sebagai salah satu bentuk kepercayaan diri. Terlepas dari bentuk kepercayaan diri yang beragam, banyak orang tua yang menyakini pentingnya mengembangkan dan melatih kepercayaan diri tersebut pada anak sejak mereka berusia dini. Berbagai seminar dan program pelatihan yang dirancang sedemikian rupa terkait dengan teknik/strategi pengembangan kepercayaan diri anak banyak dilakukan secara intensif terutama di kota-kota besar. Tentu saja ini adalah sebuah hal yang positif selama materi dan praktek kegiatannya tidak bertentangan dengan nilai nilai luhur yang kita yakini. Namun bisa menjadi masalah yang memprihatinkan ketika konsep percaya diri yang diajarkan ini disalahartikan dan melebar ke arah kebanggaan/pride, yang berbeda tipis dengan kesombongan. Apalagi jika esensinya keluar dari batasan Islam.

Sebagai contoh adalah sikap ‘ malu’ yang kadang dianggap sebagai sikap yang bertolak belakang dengan kepercayaan diri. Padahal dalam Islam malu adalah sebagian daripada iman. Ketika seorang remaja perempuan merasa malu untuk berpakaian minim dan mencolok yang mengundang perhatian banyak orang, tentunya rasa malu ini bukan sekedar bentuk ketidakpercayaan diri untuk tampil beda, tapi bisa jadi merupakan bagian dari keimanan. Ketika seorang remaja merasa ‘takut’ melakukan pelanggaran , tentunya rasa takut ini bukan sekedar bentuk ketidakberanian mengambil resiko, tapi bisa jadi merupakan bagian dari akhlak muslim untuk patuh pada aturan. Demikian pula halnya dengan sikap ‘diam’, (dalam artian tak pamer dengan kelebihan diri, tak menyebut- nyebut jasanya pada orang lain) adalah bagian dari akhlak seorang muslim, bukan berarti tak pede berbicara.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang memandang remeh sebuah kesalahan atau kelalaian yang dilakukan dengan alasan bahwa kelalaian itu hal yang wajar terjadi. Apalagi merasa ‘percaya diri’ untuk tetap melakukan hal yang dilarang oleh agama kita. Padahal kesalahan yang kita lakukan harus dipandang serius dalam rangka perbaikan diri untuk segera bertobat. Sekecil apapun perbuatan kita di dunia, ada pertanggungjawabannya di akherat kelak.

Ibnu Mas’ud RA berkata “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seakan-akan di berada di bawah sebuah gunung dan dia khawatir kalau gunung itu ditimpakan kepadanya.Sedangkan orang fasik melihat dosa-dosanya seperti dia melihat seekor lalat yang bertengger di hidungnya.”

Percaya diri dalam Islam terkait dengan keyakinan teguh untuk menegakkan prinsip sesuai syariat, semangat berprestasi mematuhi aturan Pencipta. Percaya diri dalam konsep islam jauh dari sikap sombong, terlepas dari sikap merendahkan orang lain, dan tak ada sangkut pautnya dengan kebutuhan pencitraan diri untuk dibilang hebat. Dalam banyak pepatah yang umum pun kepercayaan diri yang berlebihan atau kebanggaan dan kesombongan dilihat sebagai suatu hal yang patut tidak baik. When arrogance comes, then comes shames. When pride comes, then comes disgraces. Bahkan ada kata-kata bijak yang mengkaitkan pride dengan orang yang ‘bodoh’: “ One day you will understand that pride is the sign of a foolish man. The foolish man goes on his pride with no thought.”

Rasulullah SAW dan generasi awal telah memberikan contoh yang luar biasa terkait dengan keyakinan dan kepercayaan diri mereka- terlepas dari kesombongan- untuk berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Sunnah. Dengan sikap tersebut mereka berprestasi membawa Islam menuju zaman keemasannya.

Al Quran sebagai rujukan utama umat Islam menegaskan tentang pentingnya umat islam memiliki kepercayaan diri sebagaimana firman Allah SWT :

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (Ali Imran ayat 139).

Semoga tak ada di antara kita yang sibuk menyiapkan anak-anaknya untuk percaya diri dengan segala atribut kecantikan, keberanian, kepandaian, ketrampilan tapi tidak dilandasi ketaqwaan. Semoga tak ada di antara kita yang sangat percaya diri telah berbuat kebaikan tapi tidak dilandasi keikhlasan. Selayaknya rasa percaya diri yang kita arahkan pada anak anak kita ditujukan kepada keteguhannya untuk yakin dengan ajaran Islam, bukan sekedar keyakinan akan tampilan fisik, intelektual, ataupun status social. Selayaknya rasa berani yang kita ajarkan pada anak kita adalah berani mengatakan kebenaran dan malu berbuat dosa.

Semoga Al Quran senantiasa menjadi pedoman kita dalam bersikap tegas saat kepercayaan diri anak kita ‘berkembang’ ke arah salah, berkembang menjadi kebanggaan ‘menjadi diri sendiri’ tanpa landasan iman; kebanggaan akan kesalahannya tanpa landasan taqwa. Semoga Al Quran menjadi panduan kita dalam bersikap tegas saat anak anak kita tak percaya diri dengan identitas keislamannya, ragu pada janji Allah untuk ‘berpretasi’ dan berjuang dalam dakwah Islam. Percaya dirikah kita untuk bisa ‘mendatangkan’ rasa percaya diri dengan landasan iman pada anak-anak kita?

 “Hai-orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya, Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu” (Surat Muhammad ayat 7)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s