All That Counts in Life

Oleh: Lara Firdani

makeitcount(single)

“Bingung ya menjelang lebaran banyak yang minta sumbangan? Begini aja, kalau ngasih sedekah ke lembaga Anu atau yayasan Anu, atau organisasi Anu, kasihnya gak usah banyak, toh nama kita gak ditulis, nyumbang sedikit kan gak ketahuan!”

“Ayo teman-teman, kita tunjukkan pada orang-orang bahwa program kita  memang beda. Banyak orang lho yang memuji kegiatan ini. Nah mereka menunggu ide-ide inspiratif kita yang lain!”

“Buat apa saya cape-cape kerja sendiri, sedangkan yang lain mau ambil yang gampangnya saja. Rugi dong!”

Berapa banyak di antara kita yang bersedekah tapi masih mengharap orang lain mengetahui kebaikan hati kita? Berapa banyak di antara kita yang menyumbangkan pemikirannya tapi masih mengharap orang lain memuji prestasi kita? Berapa banyak di antara kita yang  malas berkarya karena merasa beban tugasnya lebih berat dari yang lain?

Perhitungan manusia yang didasarkan pada untung rugi secara materi dalam melakukan suatu amal kebaikan adalah merugikan dirinya sendiri. Berkorban harta, pikiran, waktu, dan tenaga untuk kepentingan orang banyak adalah perbuatan baik yang berat timbangan amalnya di sisi Allah SWT- yaitu bagi mereka yang melakukannya dengan ikhlas. Ikhlas berhubungan erat dengan amalan hati (niat), yang menjadi salah satu syarat amalan ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Syarat yang lain adalah ittiba’ (amalan dzahir ) yang terkait  dengan tuntunan Rasulullah SAW. Dengan kata lain, amal ibadah kita akan diterima Allah SWT jika syarat ikhlas dan ittiba’ terpenuhi. Jika niat utama yang memotivasi seseorang untuk berbuat amal adalah karena ingin dilihat orang lain , maka ini bisa membatalkan  ibadahnya. Demikian pula jika perbuatan yang dilakukan tak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, maka ibadahnya bisa tertolak. Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan bahwa “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.

Keikhlasan seseorang bisa ternoda ketika niatnya berbuat amal adalah agar orang lain bisa melihatnya dan kemudian memujinya (riya), atau agar orang lain mendengarnya dan kemudian memujinya hingga orang tersebut menjadi tenar (sum’ah). Rasulullah SAW tidak melarang orang untuk menjadi terkenal, namun ketenaran  yang diperoleh bukan karena ambisi mengejar popularitas seraya beramal, tetapi  karena sebuah akibat dari akhlak dan amalannya yang luar biasa.  Sincerity gives wings to power”.  Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang berperang di jalan Allah SWT untuk mencari pahala dan juga agar namanya dikenang manusia lainnya, apa yang akan dia peroleh?Rasulullah SAW menjawab “Ia tidak akan mendapatkan apa-apa.” Kemudian orang tersebut mengulang pertanyaannya sampai tiga kali , dan Rasulullah menjawab sama. Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT tidak menerima amalan kecuali dengan niat ikhlas dan hanya mengharap balasan dari Allah SWT semata.” (HR An Nasai).

Saya sangat terkesan dengan perumpamaan yang dijelaskan oleh seorang ulama tentang niat yang ikhlas. Beliau mengibaratkan dengan  pertunjukkan di atas panggung, dimana bisa jadi mereka yang bertugas di belakang panggung, niat ikhlasnya lebih terjaga. Sekalipun dia tidak dilihat orang, dia tetap mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya  untuk mendukung terselenggarakannya suatu pertunjukkan. Tetapi bagi mereka yang perform di depan panggung, biasanya perlu perjuangan yang lebih besar untuk bisa melawan riya.  Mereka yang berhadapan langsung dengan banyak orang, mendapatkan kesempatan menerima pujian dan popularitas. Riya adalah perbuatan yang tercela dan merupakan salah satu ciri orang munafik. Sebuah pepatah mengatakan : Every man alone is sincere. At the entrance of a second person, hypocrisy begins.

Tentu bukan ‘tugas’ kita untuk men-judge performa seseorang- apakah niatnya ikhlas atau bercampur dengan riya.  Keikhlasan seseorang dalam beramal biasanya  terlihat seiring dengan perjalanan waktu. Kualitas keihklasannya dalam beramal bisa terlihat setelah ujian berupa ‘pengorbanannya’ datang. Ali bin Abi Thalib RA pernah menjelaskan ciri-ciri mereka: “ Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.” Memang perlu niat dan usaha yang kuat untuk melakukan berbagai amalan yang berkesinambungan dengan didasari niat ikhlas, karena riya bisa datang kapan saja: di awal, tengah atau akhir ‘perjuangan’ kita dalam berbuat amal sholeh.  Yang penting adalah usaha kita untuk menjaga keihlasan tersebut seraya melawan riya dari dalam diri. Fudhail bin Iyadh berkata: “ Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amalan karena manusia adalah riya, dan ikhlas adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya” (Riwayat Al Baihaqi). Adapun jika seseorang berusaha melawan riya yang datang dan tidak terbuai dengan segala pujian yang menghampiri, inshaa Allah mendapatkan pahala ibadah. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah memaafkan umatku akan apa yang terbersit di benaknya selama hal itu belum dilakukan atau diucapkan.” (HR Al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Semoga  kebaikan yang kita lakukan selama ini didasari oleh niat yang ikhlas untuk mendapat ridho Allah SWT- bukan ridho manusia. Semoga amal sholeh yang kita lakukan selama ini ditujukan untuk kemuliaan Islam, bukan untuk popularitas  diri. Semoga kita tetap semangat  berbuat amal shaleh baik dalam keadaan sendiri atau beramai-ramai, baik terlihat oleh orang lain atau tidak, baik mendapat pujian atau tidak.

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari mempersekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon kepadaMu dari apa yang kami tidak ketahui (HR Ahmad).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s