Getting Caught Up in Praise

Oleh: Lara Fridani

praisethelord-2

“Nah begitu dong, ini baru anak ayah. Selalu jadi sang juara. Hadiah apa nih buat anak ayah yang hebat ini?!”
 

“Ckckckck, senang banget deh lihat kamu yang cantik imut. Pakai baju model apa aja cocok, warna apa aja oke, mana ukuran nya juga pas banget lho, modis gitu!”

“Waduh ibu X kelihatan tambah muda dan segar nih. Katanya baru-baru ini sekeluarga liburan di luar negri ya? Super deh , pasti hidupnya makmur ya bu!
 

“Wah, bapak ini memang hebat, prestasinya luar biasa.Bapak sangat pantas untuk segera mendapat promosi jabatan. Mudah-mudahan nanti kita bisa saling bekerjasama!”

Tak jarang kita mendengar bahwa memberi pujian pada seseorang- apalagi pada anak yang masih kecil adalah hal yang positif. Padahal memberi pujian yang berlebihan dan terlalu sering juga dapat berakibat negatif sebagaimana halnya tak memberi pujian/penghargaan sama sekali. Seberapa intens dan seberapa besarkah sebuah pujian tepat diberikan? Banyak ahli pendidikan yang berpendapat bahwa pujian sebaiknya lebih difokuskan pada usaha/effort maupun cara/strategy yang dilakukan anak untuk membuat ‘sebuah perubahan’ yang baik. Dengan demikian kita tidak disarankan memberikan pujian yang difokuskan pada kemampuan anak (contoh: produk prestasi sebagai sang juara) atau ditujukan untuk memberi label yang melekat pada diri anak (contoh : anak hebat). Selanjutnya, seiring dengan bertambahnya usia anak, pujian tidak kita berikan untuk hal-hal yang relatif mudah, karena hal ini bisa diartikan anak secara berbeda- mereka mengira kita ‘tak pandai’, atau menganggap kita memandang kemampuan mereka di bawah standar.

Apalagi memberi pujian pada orang dewasa, tentunya ‘standar’ pujian, tak se-sederhana dan se-‘konkret’ pujian kita pada anak kecil. Walaupun tak jarang kita masih bisa menemukan orang dewasa yang senang memberikan pujian ‘lebay’ pada orang lain atau terlena dengan sanjungan ‘lebay’ dari orang lain. Tentu saja orang dewasa sekalipun, masih mengalami reaksi chemically dan intellectually saat diberikan pujian, dimana dia akan merasa senang, bangga, puas dan termotivasi untuk ‘berprestasi’ lagi untuk mendapatkan pengalaman ‘rasa’ yang menyenangkan tersebut. Sehingga wajar jika banyak orang yang berpendapat bahwa pujian yang diekspresikan karena rasa kagum kita pada seseorang adalah hal yang patut dan diyakini bisa memotivasi seseorang agar berbuat lebih baik. Pujian yang kita berikan sebagai bentuk penghargaan kita dari lubuk hati yang jujur memang dapat mempererat kasih sayang/silaturrahim. Namun tentunya bentuk pujian seperti itu berbeda dengan pemberian pujian yang diungkapkan sekedar untuk basa basi, dimana kita harus pikirkan kembali maksud dan maknanya. Apalagi pujian yang berlebihan, tidak pada tempatnya atau tidak layak diterima seseorang dengan maksud ‘menjilat’, atau karena takut pada orang yang diberi pujian.

Ajaran Islam telah mengatur batasan pemberian pujian secara luar biasa, dengan memberikan makna ‘value’ yang jauh lebih dalam. Pertimbangan Islam dalam memberikan pujian bukan sekedar untuk memotivasi , memberikan ‘rasa’ yang menyenangkan pada seseorang, atau meningkatkan kepercayaan diri orang tersebut. Batasan pemberian pujian dalam islam terkait dengan ‘pembentukan kepribadian muslim’ dalam hubungannya sebagai hamba Allah SWT. Seorang muslim tak akan berlebihan dalam memberikan sanjungan pada seseorang. Demikian pula seorang muslim tak akan mudah terlena dan menjadi bangga (ujub) pada dirinya karena merasa yakin memiliki kelebihan tertentu yang pantas dipuji. “You can’t let praise or criticism get to you. It’s a weakness to get caught up in either one.”Dengan demikian , kita perlu berhati-hati dalam memberi pujian dan mengemasnya dengan cara yang bijak agar saudara kita seiman tetap berkepribadian sholeh. Pepatah mengatakan, “People can not go wrong if you don’t let them.”

Abu Musa RA bercerita bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mendengar ada orang yang memuji saudaranya dengan sangat berlebihan. Beliau bersabda: ”Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian (kalian telah membinasakannya).” [HR Bukhari dan Muslim]

Rasulullah SAW pernah bersabda dalam khutbah Jumat-nya : “Berwaspadalah kamu daripada perangai puji memuji. Sesungguhnya pujian itu adalah sembelihan.” (Hadis riwayat Ahmad)

Dalam islam, ada pujian yang dibolehkan, ada pula yang dilarang. Para ulama berpendapat bahwa memuji orang yang memiliki iman yang baik, yang tidak mudah terpesona dengan pujian yang diberikan padanya, hukumnya tidak dilarang. Rasulullah SAW juga pernah memuji para sahabatnya karena kelebihan yang mereka miliki.
Kepada Abu Bakar RA, beliau bersabda : ” Hai Abu Bakar, jangalah engkau menangis. Sesungguhnya orang yang paling menjaga amanat dalam persahabatan dan harta adalah engkau. Andaikata aku harus mengangkat pendamping dari umat-ku, niscaya kuangkat dirimu sebagai pendampingku. “

Kepada Umar beliau berkata ” Hai Umar, tidaklah setan berjumpa denganmu sedang engkau berjalan di satu sisi, melainkan ia berjalan di sisi yang tidak engkau lalui. “

Kepada Usman beliau berkata: ” Bukalah pintu bagi Usman, dan beritahukanlah bahwa ia masuk syurga. “

Juga kepada Ali RA : ” Engkau sebagian dari padaku, dan aku sebagian daripadamu. “

Rasulullah SAW lebih sering melontarkan pujian dalam bentuk doa. Ketika melihat kelebihan sahabat-sahabatnya, beliau tidak langsung memuji mereka, namun lebih memilih untuk mendoakan mereka. Sebagai contoh, beliau mendoakan Ibn Abbas RA yang memiliki minat dan ketekunan agar ahli dalam ilmu agama dan ilmu tafsir (Al-Qur’an), serta mendoakan Abu Hurairah RA yang tekun mengumpulkan hadits dan menghapal hadits agar dikaruniai kemampuan untuk tidak melupakan apa yang pernah dihapalnya.

Adakah kita masih ragu dengan ajaran Islam tentang batasan pemberian pujian ini? Semoga kita termasuk orang-orang yang membuka pikiran dan hatinya untuk belajar agama lebih mendalam. Semoga kita berhati-hati dalam memberikan pujian agar tidak menjerumuskan saudara kita. Semoga kita menyikapi pujian yang kita terima secara ‘sehat’dan mengembalikan segala puji hanya bagi Allah SWT.

“Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa (pujian) yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka kira.” (HR Bukhari)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s